Wamena, fajarpapua.com – Tidak semua prosesi wisuda berakhir dengan pelukan hangat antara anak dan orang tua.
Tidak semua toga menjadi saksi kebahagiaan seorang anak yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Ada pula perjuangan yang harus dituntaskan dengan air mata, ketika orang tua berdiri menerima ijazah yang seharusnya diserahkan langsung ke tangan sang anak.
Suasana haru menyelimuti prosesi penyerahan ijazah di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Petra Baliem Wamena, Papua Pegunungan, pada 28 Oktober 2026 lalu.
Di tengah kebahagiaan para wisudawan yang berhasil menyelesaikan pendidikan, terselip sebuah momen yang mengundang kesedihan sekaligus rasa haru.
Sepasang orang tua hadir bukan untuk menyaksikan anaknya berdiri mengenakan toga, melainkan untuk mewakili almarhum Derpit Wakerkwa menerima ijazah yang telah menjadi buah perjuangannya selama menempuh pendidikan.
Derpit telah berpulang sebelum sempat merasakan sendiri kebahagiaan menyandang gelar akademik dan menerima ijazah dari kampus tempatnya menimba ilmu.
Namun, kepergiannya tidak membuat perjuangan dan hasil pendidikannya menjadi sia-sia.
Ijazah itu akhirnya sampai kepada orang-orang yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupnya: kedua orang tuanya.
Bagi orang tua, momen tersebut tentu menghadirkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ada kebanggaan karena harapan untuk melihat sang anak menyelesaikan pendidikan akhirnya terwujud.
Namun, ada pula ruang kosong yang tidak mungkin tergantikan karena anak yang mereka banggakan tidak lagi berada di sisi mereka.
Ijazah yang diterima hari itu bukan sekadar lembaran kertas yang menandakan selesainya pendidikan.
Di baliknya tersimpan perjalanan panjang, doa, pengorbanan, harapan, dan perjuangan seorang anak yang ingin memberikan kebahagiaan kepada keluarganya.
Mungkin dalam bayangan kedua orang tuanya, hari wisuda adalah hari ketika mereka bisa menyaksikan Derpit berdiri dengan bangga, mengenakan toga, menerima ijazah, lalu pulang membawa kabar bahagia.
Namun, kehidupan memiliki jalan yang tidak selalu sesuai dengan harapan manusia. Tuhan berkehendak lain. Sang anak telah pergi lebih dahulu, sementara hasil perjuangannya tetap menjadi kebanggaan keluarga.
Momen penyerahan ijazah tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial dan menuai perhatian warganet. Banyak yang merasa tersentuh melihat orang tua harus menerima ijazah anaknya yang telah meninggal dunia.
Sebuah pesan yang menyertai unggahan itu menggambarkan betapa besar arti momen tersebut.
"Penyerahan ijazah kepada orang tua dari almarhum mahasiswa yang telah meninggal. Hal ini menyatakan bahwa harapan orang tua bagi anaknya sudah tercapai walaupun Tuhan berkehendak lain. Terima kasih orang tua yang luar biasa," demikian pesan yang tertulis dalam unggahan tersebut.
Kisah Derpit Wakerkwa menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, nilai, atau selembar ijazah.
Di dalamnya ada mimpi seorang anak, ada doa orang tua, serta pengorbanan keluarga yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain.
Hari itu, kedua orang tuanya memang tidak bisa menggandeng Derpit naik ke panggung wisuda. Mereka juga tidak bisa memeluknya setelah ijazah diterima.
Tetapi, mereka tetap datang untuk menjemput hasil perjuangan sang anak.
Ijazah itu akhirnya berada di tangan orang tuanya. Sebuah pencapaian yang mungkin telah lama dinantikan, meski harus diterima dengan hati yang penuh kehilangan.
Selamat jalan, Derpit Wakerkwa. Perjuanganmu telah sampai pada satu titik yang membanggakan. Semoga ijazah itu menjadi kenangan indah sekaligus bukti bahwa mimpi seorang anak tetap hidup dalam hati orang tua yang mencintainya.
Sebab, ada kebahagiaan yang tidak lagi bisa dirayakan bersama, tetapi tetap bisa dikenang sepanjang masa. (red)










