Timika, fajarpapua.com – Aksi saling serang antara warga Suku Nduga dan Suku Nayak terjadi di Kampung Elekma, Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu (28/10) pagi.
Insiden tersebut diduga dipicu kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang pelajar berusia 15 tahun.
Bentrokan yang terjadi sejak sekitar pukul 05.10 WIT itu membuat situasi keamanan di sekitar kawasan pemakaman Sinakma memanas.
Aparat gabungan kepolisian pun dikerahkan untuk mengendalikan keadaan dan mencegah bentrokan meluas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketegangan bermula dari kecelakaan lalu lintas pada Selasa (27/10) yang menewaskan Laginus Nimiangge (15), seorang pelajar yang merupakan warga Suku Nduga.
Kecelakaan tersebut diduga memicu kemarahan sebagian warga Suku Nduga.
Pada Rabu pagi, massa kemudian mendatangi warga Suku Nayak yang berada di sekitar kawasan pemakaman Sinakma.
Situasi semakin memanas ketika warga Suku Nayak melakukan perlawanan. Kedua kelompok akhirnya terlibat aksi saling serang yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat di sekitar lokasi.
Warga yang merasa terancam kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas piket Polres Jayawijaya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, aparat gabungan yang terdiri dari satu satuan setingkat kompi (SST) personel Brimob Kompi D Wamena Polda Papua dan satu SST personel Polres Jayawijaya bergerak menuju lokasi bentrokan.
Untuk mengendalikan situasi, petugas menggunakan gas air mata guna membubarkan massa dari kedua kelompok yang terlibat aksi saling serang.
Upaya tersebut membuat kedua kelompok mundur dari lokasi bentrokan. Massa Suku Nduga bergerak kembali ke arah Elekma melalui kawasan pemakaman Sinakma, sementara warga Suku Nayak bertahan di sekitar bagian depan pemakaman.
Meski situasi berangsur kondusif, aparat keamanan tetap melakukan penyekatan di sepanjang Jalan Trans Napua–Habema. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan susulan.
Korban Kecelakaan Dikremasi
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Laginus Nimiangge meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi sehari sebelum bentrokan. Jenazah korban telah dikremasi atau dibakar sesuai adat pada Selasa (27/10) sekitar pukul 18.00 WIT.
Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban luka maupun kerugian material akibat aksi saling serang tersebut. Data mengenai dampak bentrokan masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Aparat kepolisian masih melakukan pengamanan dan penyekatan di sejumlah titik untuk menjaga situasi tetap kondusif serta mencegah kedua kelompok kembali terlibat bentrokan.
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan bersama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan tokoh adat diharapkan segera memfasilitasi dialog atau mediasi antara kedua belah pihak.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meredam ketegangan, mencegah aksi balasan, serta menghindari jatuhnya korban berikutnya.
Masyarakat juga diimbau menahan diri dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Penyelesaian persoalan diharapkan dilakukan melalui komunikasi dan jalur yang melibatkan pihak berwenang serta tokoh adat.
Dengan demikian, situasi keamanan di Kabupaten Jayawijaya dapat kembali pulih dan aktivitas masyarakat berlangsung aman. (ron)







