Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Perang Suku di Wouma Kembali Pecah, Puluhan Rumah Dibakar Massa yang Bertikai

image
imageFoto / NASIONAL
Redaksi3 menit baca1 kali dibaca

Wamena, fajarpapua.com – Konflik horizontal antara kelompok Suku Lani (Lanny) dan Suku Kurima (Hubula) di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, kembali pecah pada Jumat (15/5) dini hari sekitar pukul 04.00 WIT.

Bentrokan susulan yang terjadi setelah konflik sehari sebelumnya itu menyebabkan ratusan warga mengungsi dan puluhan unit rumah warga terbakar.

Situasi di kawasan pinggir Kali Uwe, Distrik Wouma, hingga Jumat siang masih mencekam.

Massa dari kedua kubu dilaporkan masih bertahan di sejumlah titik dan saling berjaga menggunakan senjata tradisional.

Kapolres Jayawijaya, Anak Agung Made Satria Bimantara turun langsung memimpin pengamanan bersama personel gabungan dari Polres Jayawijaya, Polres Lanny Jaya, dan Kompi 4 Yon B Pelopor Satuan Brimob Polda Papua.

Berdasarkan laporan aparat pada pukul 11.15 WIT, massa dari kelompok Suku Lani diperkirakan mencapai 500 hingga 600 orang, sedangkan massa dari Suku Kurima atau Hubula berkisar 400 sampai 500 orang.

Kapolres menjelaskan, bentrokan lanjutan dipicu isu rencana penyerangan usai proses pencarian korban tragedi jembatan gantung Kali Uwe yang sebelumnya roboh dan menelan korban jiwa.

“Personel di lapangan terus berupaya meredam situasi dengan pendekatan persuasif dan pengamanan ketat. Kami mengimbau seluruh warga untuk tidak keluar rumah dan tetap berkoordinasi dengan aparat setempat,” ujar Kapolres.

Akibat bentrokan yang terjadi Kamis (14/5), Plt Kepala Distrik Wouma, Fransiskus Itlay, dilaporkan mengalami luka dan pendarahan di bagian kepala.

Sementara warga dari kawasan Tolikara-Misai memilih mengungsi dan berlindung di Gereja Katolik Kristus Jaya Wamena demi menghindari bentrokan susulan.

Hingga Jumat siang, aparat keamanan masih bersiaga penuh guna mencegah konflik meluas ke wilayah lain di Kota Wamena dan sekitarnya.

Gelar Rapat Mitigasi Konflik

Sebelumnya, Polda Papua menggelar rapat mitigasi penanganan konflik horizontal antara kelompok Pirime (Lanny) dan Kurima (Woma) di Ruang Kerja Kapolda Papua, Mapolda Papua Koya Koso, Kamis (14/5).

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Papua, Patrige R. Renwarin dan dihadiri Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere serta sejumlah pejabat utama Polda Papua dan unsur terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut dibahas akar persoalan konflik, dampak sosial yang muncul, hingga langkah mitigasi guna mencegah eskalasi konflik lebih luas di wilayah Jayawijaya dan sekitarnya.

Kapolda Papua menegaskan penyelesaian konflik tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan, tetapi juga melibatkan pendekatan adat, sosial, dan keagamaan.

“Polda Papua bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus berupaya melakukan langkah-langkah mitigasi agar situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Pendekatan dialog, adat, dan pelibatan tokoh agama menjadi prioritas,” ujarnya.

Dalam rapat itu dijelaskan konflik bermula dari persoalan lama terkait denda adat pasca kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024.

Mediasi yang mengalami kebuntuan kemudian memicu aksi saling serang antarkelompok.

Situasi semakin memburuk setelah jembatan gantung di Kali Uwe roboh saat dilintasi massa, menyebabkan puluhan warga hanyut dan hilang.

Plh Karo Ops Polda Papua, Kombes Pol Dede Alamsyah mengatakan fokus utama aparat saat ini adalah memastikan pencarian korban berjalan aman sekaligus mencegah bentrokan susulan.

“Langkah pengamanan terus diperkuat dengan menempatkan personel di titik-titik rawan serta melakukan koordinasi intensif bersama tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere menyampaikan kekhawatiran terkait potensi bentrokan lanjutan setelah proses pencarian korban selesai, mengingat massa dari kedua kelompok masih berkumpul di sejumlah titik di wilayah Wamena. (mas)