Jayapura, fajarpapua.com-Badan Gizi Nasional (BGN) terus melakukan percepatan implementasi program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Papua.
Hal itu dilakukan melalui sosialisasi modul pelaksana pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait pendalaman protein hewani dan nabati yang berlangsung di Wali Kota Jayapura, Jumat (22/5/2026).
“Lewat sosialisasi ini bisa menyamakan standar operasional sekaligus mendongkrak kreativitas pengelolaan gizi di daerah,”ujar Asisten Bidang Pemerintahan Sekda Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari saat membuka kegiatan sosialisasi tersebut.
Nyoman mengatakan, program MBG merupakan inisiasi Presiden Prabowo Subianto diluncurkan 6 Januari 2025 lalu, berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui perputaran anggaran besar. Program ini juga ditargetkan mampu menekan laju inflasi serta menurunkan angka prevalensi stunting di Kota Jayapura.
"Kita berharap pertumbuhan ekonomi di Kota Jayapura semakin meningkat, menekan inflasi, dan menurunkan angka stunting yang pada tahun 2023 mencapai 22,9 persen," ujar Nyoman.
Menurut dia, pemenuhan protein hewani lokal seperti ikan segar masih menghadapi tantangan harga akibat metode penangkapan nelayan yang mayoritas manual. Kondisi cuaca dan gelombang tinggi kerap memicu kelangkaan yang berujung pada lonjakan harga ikan di pasar.
"Memang harga ikan mahal, kita berkomitmen melakukan inovasi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan guna menjaga stabilitas pasokan hulu,"ucap Nyoman.
Ditempat yang sama, Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, menjelaskan, keberadaan 23 modul baru bertujuan menciptakan standardisasi pelayanan di seluruh Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPBG) se-Indonesia.
BGN memilih wilayah Jayapura sebagai lokasi awal sosialisasi karena melihat banyaknya praktik baik yang telah berjalan.
Gunala mengatakan, modul para pengelola SPBG dipersiapkan untuk menjadi agen edukasi gizi bagi masyarakat luas.
"Tujuannya adalah agar seluruh SPBG se-Indonesia itu bisa sama, tidak ada perbedaan antara di timur, barat, maupun selatan. Fungsi agen edukasi sangat krusial karena program MBG hanya memenuhi satu porsi makan harian siswa,”tuturnya.
Dikatakannya, kecukupan gizi harian tetap menjadi tanggung jawab dan komitmen masing-masing keluarga di rumah. Dengan adanya edukasi ini, diharapkan mampu mengubah pola konsumsi masyarakat agar lebih seimbang dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi karbohidrat.
Dalam momen ini BGN juga menyoroti pentingnya variasi menu untuk mencegah kebosanan dan meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah.
Berdasarkan kajian UNICEF, keberagaman menu makanan terbukti efektif meningkatkan angka kehadiran anak ke sekolah.
Lanjut Gunalan, variasi menu pada sejumlah SPBG di Jayapura terpantau masih minim jika dibandingkan dengan wilayah luar Papua.
"Kalau kita lihat variasi menu MBG di Jayapura begitu banyak. Ini jadi kendala utama minimnya variasi tersebut bukan karena keterbatasan anggaran, melainkan faktor kreativitas dan operasional dapur yang masih baru,”tutur Gunalan.
BGN terus mendorong pemerintah daerah guna kolaborasi dalam melatih para ahli gizi lokal.(hsb).

