Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

MBG Ciptakan 1,27 Juta Lapangan Kerja Baru di Indonesia

image
imageFoto / NASIONAL
Redaksi2 menit baca13 kali dibaca

Jayapura, fajarpapua.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru di berbagai daerah, termasuk Papua.

Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Dr Gunalan mengatakan, hingga 21 Mei 2026 program MBG telah mendistribusikan lebih dari 8 miliar porsi makanan kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

“Program MBG hadir bukan hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Saat ini program tersebut telah menjangkau 6,42 juta penerima manfaat, termasuk siswa, ibu hamil, dan balita,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, program MBG juga telah menciptakan sekitar 1,27 juta lapangan kerja baru di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus menekan angka stunting.

Gunalan menuturkan, Kabupaten Jayapura dipilih sebagai lokasi awal sosialisasi promosi dan edukasi MBG karena dinilai memiliki inovasi yang baik dalam pelaksanaan program tersebut.

Dalam kegiatan sosialisasi itu, Badan Gizi Nasional menghadirkan 23 modul promosi dan edukasi yang akan dipelajari para petugas SPPG, kepala dapur, ahli gizi, hingga tenaga akuntansi agar dapat menjadi agen edukasi di masyarakat.

“Pelaksanaan MBG di Kabupaten Jayapura bahkan mendapat perhatian dari UNICEF dan delegasi Tiongkok. Salah satu hasil evaluasi menunjukkan meningkatnya minat siswa datang ke sekolah karena tertarik mendapatkan menu MBG,” katanya.

Saat ini terdapat 24 dapur MBG yang telah beroperasi di Kabupaten Jayapura dan seluruhnya dalam kondisi baik. Meski demikian, Badan Gizi Nasional masih menemukan kendala terkait variasi menu makanan yang dinilai masih terbatas.

Menurut Gunalan, variasi menu yang masih berkisar lima hingga tujuh jenis berpotensi membuat anak-anak cepat bosan. Karena itu, pihaknya mendorong para ahli gizi untuk menghadirkan menu yang lebih beragam dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

“Kendala lainnya adalah distribusi bahan baku akibat kondisi geografis. Karena itu kami mendorong pengembangan menu berbasis kearifan lokal agar bahan pangan yang tersedia di daerah dapat dimanfaatkan sebagai menu MBG yang tetap disukai anak-anak,” tuturnya. (hsb)