Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

TNI Bantah Tuduhan Pengeboman Gereja Katolik di Intan Jaya, TPNPB OPM Sebut Serangan Dilakukan Aparat

image
imageFoto / NASIONAL
Redaksi3 menit baca0 kali dibaca

Intan Jaya, fajarpapua.com – Insiden ledakan yang terjadi di luar Gereja Katolik Stasi Santo Paulus Nabuni, Mbamogo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, memunculkan narasi yang saling bertolak belakang antara aparat keamanan dan kelompok TPNPB OPM terkait dalang di balik peristiwa tersebut.

Peristiwa yang terjadi pada Minggu (17/5) itu disebut mengakibatkan sejumlah warga sipil menjadi korban saat berada di sekitar halaman gereja usai ibadah berlangsung.

Koops TNI Habema melalui Kepala Penerangan (Kapen) Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut sekaligus membantah tudingan yang menyebut aparat TNI/Polri sebagai pelaku pengeboman.

“Kami tegaskan, TNI bukan pelaku pengeboman tersebut,” ujar Wirya dalam keterangannya.

Menurutnya, hingga kini tim gabungan masih melakukan pendalaman dan verifikasi di lapangan.

Namun dari hasil temuan awal, granat yang ditemukan di lokasi disebut tidak memiliki karakteristik standar persenjataan yang digunakan TNI.

Selain itu, TNI juga membantah penggunaan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil maupun lokasi ibadah di Papua.

“TNI tidak menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, apalagi di area ibadah. TNI selalu mengedepankan pendekatan keamanan yang humanis dan melindungi masyarakat Papua,” katanya.

Koops TNI Habema menilai insiden tersebut berpotensi menjadi bagian dari upaya provokasi untuk memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya serta memecah hubungan aparat dengan masyarakat Papua.

Pihak TNI mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tetap menunggu hasil investigasi resmi di lapangan.

Satgas Koops Habema disebut terus melakukan patroli dan pengamanan di wilayah tersebut guna mencegah kejadian serupa terulang.

Aparat juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak gereja dan tokoh masyarakat untuk membantu para korban.

“Kami akan terus memberikan update perkembangan secara transparan sesuai fakta yang diperoleh dari tim di lapangan,” ucapnya.

TPNPB OPM Tuduh Aparat

Di sisi lain, TPNPB OPM justru menyampaikan tuduhan berbeda. Melalui siaran pers yang disampaikan Jubir TPNPB OPM, Sebby Sambom, kelompok tersebut menuding aparat militer Indonesia melakukan penyerangan menggunakan drone dan RPG ke area Gereja Katolik di Mbamogo.

Menurut Sebby, laporan itu diterima dari pasukan TPNPB Kodap VIII Intan Jaya yang berada di wilayah konflik bersenjata tersebut.

Ia menyebut serangan terjadi sekitar pukul 12.15 siang saat umat gereja sedang keluar dari lokasi ibadah dan berada di halaman gereja.

TPNPB OPM mengklaim lebih dari lima warga sipil menjadi korban ledakan, di antaranya Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau.

“Seluruh korban adalah warga sipil yang tidak bersenjata dan berada di halaman Gereja Katolik,” kata Sebby Sambom. TPNPB OPM juga menyebut dua korban telah dievakuasi oleh Pastor Yanuarius Yance Wadogaudi Yogi, Pr menuju RSUD Intan Jaya untuk mendapatkan penanganan medis, sementara sejumlah korban lainnya disebut belum berhasil dievakuasi.

Kelompok tersebut turut mengklaim warga di sekitar Mbamogo mengungsi ke hutan dan pusat Kota Sugapa karena khawatir terhadap situasi keamanan pasca-ledakan.

Selain itu, TPNPB OPM menuding adanya peningkatan operasi militer di Intan Jaya sejak 12 hingga 16 Mei 2026 yang ditandai dengan pengerahan aparat menggunakan enam helikopter militer.

Atas insiden tersebut, TPNPB OPM mendesak Presiden RI, Menteri Pertahanan, Panglima TNI, hingga lembaga internasional untuk melakukan investigasi terhadap dugaan pelanggaran HAM berat. (ron)