Jayapura, fajarpapua.com – Konflik perang antarsuku yang kembali pecah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan sejak Jumat (15/5) masih terus berlangsung.
Hingga Sabtu (16/5), bentrokan yang dipicu persoalan denda adat akibat kasus kecelakaan lalu lintas itu menyebabkan dua orang meninggal dunia dan 19 lainnya mengalami luka-luka.
Perang suku terjadi antara kelompok Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny (Tiom) di sejumlah titik, di antaranya Jalan Diponegoro Wamena, Pasar Wouma hingga kawasan Kali Uwe Wouma.
Kasi Humas Polres Jayawijaya, AKP Efendi Al Husaini mengatakan, aparat keamanan terus melakukan pengamanan dan monitoring guna mencegah meluasnya konflik horizontal tersebut.
“Perang suku terjadi antara suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny (Tiom) menyebabkan dua orang meninggal dunia, sementara 19 orang mengalami luka-luka,” ujar Efendi kepada wartawan, Sabtu (16/5).
Selain korban jiwa, bentrokan juga mengakibatkan sejumlah rumah dan honai milik warga dibakar massa di sekitar area konflik Kali Uwe Wouma.
Hingga kini, kerugian material masih belum dapat didata karena situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif.
“Terjadi juga pembakaran beberapa rumah dan honai yang merupakan daerah pemukiman masyarakat setempat. Namun karena perkembangan situasi dan kondisi, kerugian materiil belum dapat didata,” katanya.
Tak hanya itu, konflik juga dilaporkan terjadi antara kelompok Suku Dani (Wamena) dan Suku Lanny di wilayah Muai, Distrik Hubikiak.
Bentrokan tersebut menyebabkan sejumlah warga mengalami luka ringan.
Berdasarkan data kepolisian, total korban akibat konflik di beberapa lokasi mencapai 21 orang, terdiri dari dua korban meninggal dunia, empat luka berat dan 15 luka ringan.
“Terjadi juga pengungsian di Mako Polres Jayawijaya dengan jumlah pengungsi terdata sebanyak 472 orang,” ungkap Efendi.
Personel Polres Jayawijaya bersama Brimob Kompi 4 Batalion Wamena langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan mencegah konflik meluas.
Cari 40 Korban Jatuh ke Sungai Wouma
Sementara itu, Polda Papua bersama tim gabungan masyarakat masih terus melakukan pencarian terhadap 40 orang korban yang jatuh ke Sungai Wouma akibat putusnya jembatan gantung pada Rabu (6/5).
Kapolda Papua Irjen Pol Patrige R Renwarin menegaskan, puluhan korban tersebut bukan merupakan korban perang suku sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.
“Jumlah korban sebanyak 40 orang itu bukan korban perang seluruhnya, tetapi karena jatuh dari jembatan. Jadi mereka tidak masuk dalam korban perang,” kata Kapolda usai panen raya jagung di Koya Barat, Jayapura, Sabtu (17/5).
Ia menjelaskan, persoalan perang suku di Wamena dipicu masalah denda adat yang belum terselesaikan sejak 2024.
Saat itu, kondisi pemerintahan di wilayah pegunungan masih dipimpin penjabat gubernur dan penjabat bupati sehingga proses penganggaran untuk penyelesaian masalah adat mengalami hambatan.
Menurutnya, kini pemerintah daerah bersama tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat terus berupaya mencari solusi agar konflik tidak kembali meluas.
Kapolda juga membantah isu yang menyebut perang suku telah meluas hingga ke pusat Kota Wamena.
Menurutnya, situasi di dalam kota relatif aman, namun masyarakat kerap terpengaruh informasi hoaks dan provokasi.
Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, Polri telah menambah sekitar 400 personel bantuan yang dibackup aparat TNI guna menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik. (hsb)

