Korea Selatan, negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia, mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren demografi. Setelah bertahun-tahun mengalami penurunan angka kelahiran, data terbaru menunjukkan adanya peningkatan jumlah bayi yang lahir di negara ini sejak awal 2023.
Berdasarkan data dari Kementerian Statistik Korsel, jumlah kelahiran bulan Februari 2025 mencapai 23.000 bayi, angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan meningkat 13,6 persen secara tahunan. Tren ini sejalan dengan kenaikan angka pernikahan sejak pertengahan 2022, meskipun tidak merata di seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.
Para ahli menyebut bahwa perubahan ini mungkin dipengaruhi oleh sikap lebih positif terhadap keluarga di kalangan generasi muda, didukung pula oleh berbagai insentif pemerintah. Pemerintah Korsel telah menggelontorkan dana besar untuk mendorong kelahiran, termasuk voucher kehamilan, tunjangan bulanan, dan kemudahan pinjaman berbunga rendah untuk keluarga muda yang membeli rumah.
Meski demikian, para pengamat menilai bahwa faktor ekonomi dan sosial masih menjadi penghalang utama bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Kim Su-jin, pekerja lepas di industri musik, mengaku awalnya ragu karena kekhawatiran biaya, namun akhirnya memutuskan punya anak setelah merasa yakin bahwa kebahagiaan keluarga lebih penting. Sebagai tambahan, peran kebijakan dan kondisi sosial yang lebih luas turut memengaruhi tren ini, meskipun masih tetap ada kekhawatiran bahwa tren positif ini belum akan bertahan lama.

