Amerika Serikat menunjukkan sinyal kesiapan untuk kembali melanjutkan konflik militer dengan Iran, meskipun saat ini kedua negara tengah menjalin gencatan senjata dan negosiasi terkait program nuklir. Dalam konferensi pertahanan tingkat tinggi di Asia pada Sabtu (30/5), Menteri Perang AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa militer AS mampu dan siap untuk melanjutkan perang jika diperlukan.
Hegseth menyatakan, "Kami lebih dari mampu, persediaan kami cukup untuk melanjutkan konflik, baik di kawasan Timur Tengah maupun di seluruh dunia. Kami berada dalam posisi yang sangat baik untuk itu." Pernyataan ini mencerminkan kekuatan militer AS yang tetap waspada di tengah perundingan terbaru dengan Iran.
Meski kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai negosiasi terkait program nuklir Iran, keputusan akhir masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump. Trump menegaskan bahwa Iran harus menyerahkan program nuklirnya secara total dan menegaskan bahwa Selat Hormuz harus dibuka tanpa biaya tol, serta menegaskan bahwa semua ranjau laut akan dimusnahkan.
Selain itu, Trump dan timnya melakukan pertemuan tertutup di Gedung Putih usai negosiasi, yang dilaporkan berakhir tanpa keputusan definitif. Trump menegaskan keinginannya agar Iran tidak mampu mengembangkan senjata nuklir, meskipun Teheran menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat sipil. Iran menegaskan bahwa fokus mereka adalah mengakhiri konflik dan tidak menginginkan senjata nuklir, namun tetap berpegang pada posisi bahwa langkah selanjutnya tergantung pada tindakan pihak lain, termasuk penggunaan rudal sebagai alat tawar.

