Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Kekerasan Dunia Pendidikan Terjadi, 13 Siswa SMA Taruna Kasuari Manokwari Jadi Korban Penganiayaan Senior

image
imageFoto / EDITORIAL
Redaksi3 menit baca0 kali dibaca

Manokwari, fajarpapua.com – Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan kembali mencuat di Provinsi Papua Barat.

Sebanyak 13 siswa di SMA Taruna Manokwari dilaporkan menjadi korban dugaan penganiayaan yang melibatkan kakak tingkat (senior) di lingkungan asrama sekolah.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu malam (22/4) itu kini menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai korban luka menyebar luas di media sosial dan sejumlah pemberitaan daring.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, delapan siswa mengalami luka akibat tindakan kekerasan tersebut.

Kondisi korban bervariasi, mulai dari memar di sejumlah bagian tubuh hingga cedera yang membutuhkan penanganan medis.

Beberapa korban bahkan harus mendapatkan perawatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan akibat luka yang cukup serius. Hingga kini, kondisi para siswa tersebut masih dalam pemantauan.

Diduga Dipicu Senioritas

Insiden ini diduga kuat berkaitan dengan praktik senioritas di lingkungan sekolah berasrama.

Para korban yang merupakan siswa tingkat bawah disebut menjadi sasaran tindakan kekerasan oleh sejumlah siswa senior.

Informasi yang beredar menyebutkan, para korban sempat dikumpulkan sebelum akhirnya mengalami tindakan penganiayaan secara bersama-sama di lokasi yang minim pengawasan.

Kasus ini memicu kekhawatiran dan kemarahan orang tua siswa. Mereka mendesak pihak sekolah untuk bertanggung jawab serta memastikan adanya tindakan tegas terhadap pelaku.

20 Siswa Terlibat

Kepala SMA Taruna Kasuari Nusantara, Brigjen TNI (Purn) Yusuf Ragainaga, membenarkan terjadinya insiden perselisihan yang berujung pada tindak kekerasan yang dialami sejumlah siswa kelas 10.

Kejadian yang berlangsung di lingkungan asrama tersebut langsung mendapatkan tindakan tegas dari pihak manajemen sekolah.

Menurut Yusuf, peristiwa terjadi pada Rabu, 22 April 2026 sekitar pukul 19.00 WIT, yang diduga berawal dari gesekan terkait sistem pembinaan dan pola kehidupan di asrama.

Ia menegaskan bahwa segala bentuk tindakan kekerasan yang sampai menimbulkan cedera tidak dapat dibenarkan dan akan diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Setiap siswa yang terbukti melakukan pelanggaran berat seperti pemukulan hingga menyebabkan korban luka-luka, akan dikenakan sanksi tegas sesuai peraturan sekolah,” tegasnya saat ditemui wartawan, Kamis (23/4).

Pihak sekolah telah melakukan pendataan menyeluruh terkait kasus ini. Dari hasil pemeriksaan awal, tercatat ada sekitar 20 siswa yang terlibat dalam kejadian tersebut, sementara jumlah korban yang harus mendapatkan perawatan medis berjumlah 13 orang.

“Kejadian berlangsung pada malam hari, dan kita langsung turun tangan melakukan pendataan. Jumlah tersebut masih data sementara dan akan terus diperbarui. Kami juga memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang layak, dan kondisinya akan terus dilaporkan kepada instansi terkait,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi konflik lanjutan, para siswa yang terlibat dalam pelanggaran tersebut untuk sementara waktu dikembalikan kepada orang tuanya.

Meskipun demikian, sekolah tetap menjamin hak pendidikan mereka, terutama di tengah masa pelaksanaan ujian.

“Karena ini sistem asrama, maka langkah terbaik untuk mencegah gesekan adalah memulangkan mereka sementara. Namun masa depan pendidikan tetap kami jaga, termasuk pelaksanaan ujian yang akan diikuti secara daring atau online,” ungkap Yusuf. (red)