Jayapura, fajarpapua.com – Kodam XVII/Cenderawasih menyiagakan lebih dari 2.000 personel untuk mengantisipasi dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di seluruh wilayah Papua.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan apel gelar pasukan dalam rangka penanganan Karhutla Kodam XVII/Cenderawasih Tahun 2026 yang dipimpin Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fabriel Buyung Sikumbang, Rabu (26/8/2026).
Apel tersebut dihadiri sejumlah pejabat utama Kodam XVII/Cenderawasih, BNPB Provinsi Papua, Basarnas serta instansi terkait lainnya.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fabriel Buyung Sikumbang mengatakan, lebih dari 2.000 personel telah disiagakan di seluruh wilayah Papua untuk mengantisipasi apabila terjadi Karhutla.
“Kami dari Kodam Cenderawasih telah menyiagakan 2.000 lebih personel di seluruh wilayah Papua untuk dikerahkan mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Ribuan personel ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota Papua yang menjadi tanggung jawab kami,” ujar Pangdam kepada awak media di Kodam XVII/Cenderawasih, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, personel yang disiagakan berasal dari berbagai satuan, mulai dari Kodim, Korem hingga unsur satuan lainnya.
Ia mengatakan, seluruh unsur tersebut akan bersinergi untuk melakukan langkah pencegahan maupun pemadaman apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Pangdam menyebutkan, berdasarkan pemantauan, terdapat sejumlah titik panas atau hotspot yang menonjol di wilayah Papua. Di antaranya empat titik di Kabupaten Nabire, serta masing-masing di Kabupaten Puncak dan Biak.
“Namun, untuk yang di Biak sudah bisa dilakukan pemadaman,” katanya.
Pihaknya juga terus melakukan pemantauan melalui berbagai sumber, termasuk aplikasi BMKG, satelit, laporan masyarakat, media maupun media sosial untuk memastikan langkah antisipasi dapat dilakukan secara cepat.
Sementara itu, fasilitas yang disiapkan untuk mendukung penanganan Karhutla antara lain 21 unit mobil pemadam kebakaran milik TNI, tangki air, kendaraan truk, ambulans serta berbagai perlengkapan pendukung lainnya.
“Memang sementara kita belum memiliki dukungan udara maupun kegiatan modifikasi cuaca. Sampai minggu ini, kami melihat belum ada yang terdeteksi di aplikasi BMKG terkait kebakaran hutan dan lahan yang meluas cukup besar,” ucapnya.
Pangdam menjelaskan, berdasarkan pemantauan melalui aplikasi BMKG, kondisi titik panas di Papua masih berada pada kategori yang relatif terkendali dibandingkan sejumlah provinsi lain di Indonesia.
“Masih terlihat warna kuning dan hijau, dan jumlah kebakaran lahan tidak terlalu banyak dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Namun, kami di Papua terus mengantisipasinya,” ujarnya.
Pangdam XVII/Cenderawasih juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Ia meminta masyarakat yang melakukan pembakaran sampah agar tetap melakukan pengawasan sehingga api tidak merembet dan menyebabkan kebakaran lahan.
“Apabila ada yang melakukan pembakaran sampah perlu dilakukan pengawasan. Kebakaran lahan di Nabire diawali dengan pembakaran lahan, kemudian meluas ke daerah lainnya karena faktor cuaca,” ungkap Pangdam. (hsb)










