Timika, fajarpapua.com- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Mozes Kilangin Timika, Papua Tengah, mengingatkan warga setempat untuk mewaspadai potensi bencana akibat kemarau panjang hingga awal 2027 yang dipicu fenomena El-Nino.
Prakirawan BMKG Timika Dwi Christianto di Timika, Senin, mengatakan pemantauan BMKG pusat kondisi El-Nino akan berlangsung selama beberapa bulan sejak Juni lalu hingga awal 2027.
"Menurut prediksi, pada awal Agustus ini hingga Januari 2027 El-Nino berada level kuat hingga sangat kuat. Itu akan mempengaruhi kondisi musim kemarau yang jatuh pada Juni-Agustus sampai September, sehingga akan semakin panjang dan kering," kata Dwi.
Lantaran kuatnya dampak El-Nino tersebut, kata dia, meskipun Indonesia biasanya dilanda musim hujan mulai bulan Oktober hingga Maret, namun curah hujan yang akan turun kemungkinan akan berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Khusus buat Mimika itu ada pengurangan curah hujan, kurang lebih sampai 50 persen dimulai dari bulan Juni lalu," kata Dwi.
Selain terdampak El-Nino, wilayah Mimika juga berpotensi terdampak La-Nina dengan kategori moderat, kuat, hingga sangat kuat.
"Di bulan Juni El-Nino-nya kategori moderat, itu curah hujan berkurang. Rata-rata curah hujan Juni di Mimika itu 500 mm, tapi tahun ini hanya 378 mm. Kondisi serupa juga terjadi di bulan Juli, dimana rata-rata curah hujan 700 mm per tahun namun turun menjadi 276 mm setelah kami ukur," ucapnya.
Dampak terbesar dari kemarau berkepanjangan tersebut, kata Dwi, yaitu keterbatasan air bersih lantaran terjadi pengurangan volume air tanah.
Menyikapi hal itu, katanya, perlu dilakukan mitigasi bencana oleh semua pemangku kepentingan terkait agar tidak membawa dampak yang lebih luas bagi masyarakat.(ant)









