Timika, fajarpapua.com – Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026 resmi berakhir di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Ketua Umum Pertapindo, Sri Rahardjo, menegaskan bahwa kompetisi tersebut bukan sekadar ajang memperebutkan gelar juara, tetapi menjadi wadah meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan kesiapsiagaan personel penyelamat dalam menghadapi situasi darurat.
“IFRC bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga peningkatan kompetensi dan kesiapsiagaan untuk melindungi serta menyelamatkan nyawa,” kata Sri Rahardjo dalam acara penutupan IFRC 2026 di Mimika Sport Complex, Timika, Sabtu (31/10) lalu.
Menurutnya, seluruh rangkaian kompetisi telah selesai dilaksanakan dan tim juri telah menetapkan para pemenang berdasarkan hasil penilaian di masing-masing kategori.
Penetapan juara dilakukan oleh Dewan Juri IFRC 2026 yang terdiri dari para ahli tanggap darurat dari perusahaan pertambangan dan energi, lembaga pencarian dan pertolongan, serta pemadam kebakaran dari Indonesia, Malaysia, Peru, dan Australia.
Keterlibatan para ahli dari berbagai negara tersebut menjadi salah satu kekuatan IFRC 2026. Selain memastikan penilaian kompetisi berlangsung secara profesional, kehadiran mereka juga membuka kesempatan bagi peserta untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan keadaan darurat.
Dalam kompetisi tahun ini, Tim Kamoro PT Freeport Indonesia (PTFI) berhasil keluar sebagai Juara Umum I. Posisi Juara Umum II diraih Tim Amungme PTFI, sedangkan Juara Umum III ditempati PT Hengjaya Mineralindo.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengapresiasi seluruh peserta yang telah menunjukkan dedikasi, kemampuan, dan profesionalisme selama mengikuti kompetisi.
Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan IFRC tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi pemenang, melainkan dari pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh setiap peserta untuk meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai potensi keadaan darurat di lingkungan kerja.
“Yang utama bukan semata-mata gelar juara, tetapi kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan kebakaran dan penyelamatan. Aspek keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap operasi pertambangan,” ujar Tony.
Tony menambahkan, kompetensi personel tanggap darurat merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi risiko kecelakaan kerja, kebakaran, maupun kondisi darurat lainnya. Karena itu, pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan di lingkungan kerja masing-masing perusahaan.
IFRC ke-8 tahun 2026 mengusung tema “Tumbuh Bersama Papua, Berkarya untuk Indonesia” dan berlangsung pada 24-31 Oktober 2026 di Kabupaten Mimika. Ajang ini diikuti 170 peserta yang tergabung dalam 17 tim dari 16 perusahaan sektor pertambangan dan energi, dengan PTFI sebagai tuan rumah.
Sebanyak delapan kategori dipertandingkan, yakni Firefighter Competency Test (FCT) & Individual Skill (IDS), Road Accident Rescue (RAR), High Angle Rescue (HAR), Confined Space Rescue (CSR), Structural Fire Fighting (SFF), Collapsed Structure Search & Rescue (CSSR), Underwater Rescue & Recovery (UWRR), serta Firefighter Combat Challenge (FCC).
Kapten Tim Kamoro PTFI, Randy Julius, mengungkapkan bahwa keberhasilan timnya meraih Juara Umum I merupakan hasil kerja keras, kedisiplinan, latihan intensif, serta kekompakan seluruh anggota tim.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen PTFI, pembina, dan pelatih yang telah memberikan dukungan selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.
Menurutnya, pengalaman dan kemampuan yang diperoleh selama IFRC harus menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas penyelamatan di lingkungan kerja.
“Misi utama seorang rescuer adalah melindungi dan menyelamatkan nyawa manusia,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan IFRC 2026 di Mimika, Pertapindo dan PTFI berharap kompetisi ini tidak berhenti sebagai ajang tahunan, tetapi menjadi sarana memperkuat kolaborasi, meningkatkan standar kemampuan personel penyelamat, serta membangun budaya keselamatan yang semakin kuat di sektor pertambangan dan energi.
Sebab, di balik setiap kemampuan teknis yang diuji dalam kompetisi, terdapat misi yang jauh lebih besar, yakni memastikan setiap personel tanggap darurat mampu bertindak cepat, tepat, dan profesional ketika keselamatan serta nyawa manusia dipertaruhkan. (ron)









