Lewati ke konten utama

Daerah Asal Tiga ASN yang Tewas Ditembak di Jayawijaya, Dua dari NTT dan Satu dari Toraja

Redaksi Fajar PapuaPenulis
14.02 WIT5 menit baca217 dibaca
Proses evakuasi tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang tewas setelah diserang KKB di Distrik Muliama, Jayawijaya.
Proses evakuasi tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang tewas setelah diserang KKB di Distrik Muliama, Jayawijaya.Foto / Papua
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com — Tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas setelah menjadi korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).

Penembakan terjadi ketika para korban dalam perjalanan kembali menuju Wamena setelah menjalankan tugas dinas di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima.

Rombongan tersebut diketahui baru saja menyalurkan bantuan pangan berupa bibit babi serta meninjau lokasi kegiatan cetak sawah.

Ketiga korban masing-masing Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya, Aprida Rapi (49), asal Toraja, dokter hewan Alfonsius Albinus Mehan (35), asal Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT); serta staf Wili Mbuik (24), asal Kupang, NTT.

Aprida dan Alfonsius meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka tembak. Sementara Wili sempat dievakuasi ke RSUD Wamena dalam kondisi mengalami luka tembak di bagian pinggang kanan.

Namun, nyawa Wili tidak tertolong. Ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan medis.

Kabar duka tersebut tidak hanya menyisakan kesedihan bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi juga keluarga besar para korban di daerah asal masing-masing.

Pengabdian ketiga korban dalam menjalankan tugas pelayanan publik di bidang pertanian dan peternakan di Papua berakhir secara tragis.

Surat Terbuka Warga NTT

Duka atas meninggalnya tiga ASN tersebut turut disampaikan Onesimus Puling, warga asal Nusa Tenggara Timur. Ia menulis surat terbuka yang ditujukan kepada kelompok bersenjata di Papua.

Dalam suratnya, Onesimus mengaku sangat terpukul mendengar Wili Mbuik, yang disebutnya sebagai anak muda asal NTT, menjadi salah satu korban dalam tragedi tersebut.

SURAT TERBUKA UNTUK KKB PAPUA

Dari Saya Onesimus Puling anak Nusa Tenggara Timur yang merasa kehilangan 🥲

Kepada saudara-saudara yang tergabung dalam KKB di Papua. Kenapa kalian sekejam itu??

Saya menulis surat ini bukan sebagai orang yang mengenal kalian secara pribadi. Saya juga bukan orang Papua. Saya adalah anak Nusa Tenggara Timur yang hatinya terluka ketika mendengar kabar bahwa tiga orang yang sedang menjalankan tugas negara harus kehilangan nyawa akibat penembakan.

Di antara mereka ada Willi Mbuik, 24 tahun, seorang anak muda, saudari perempuan kami asal Rote, Nusa Tenggara Timur.

Willi mungkin berangkat dari rumah dengan membawa harapan sederhana: bekerja, mengabdi, membangun masa depan, dan suatu hari pulang kembali bertemu keluarganya.

Tetapi hari itu, ia tidak pulang sebagai seorang anak yang membawa cerita tentang pekerjaannya.

Ia pulang sebagai jenazah.

🥲 Bayangkan hati seorang ibu yang menunggu anaknya pulang, tetapi yang datang justru kabar kematian.

Bayangkan seorang ayah yang mungkin selama ini berharap anaknya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan keluarga, tetapi harus menerima kenyataan bahwa anaknya pergi untuk selamanya.

Dan bayangkan keluarga Aprida Rapi dan drh. Alfonsius Albinus Mehan yang juga harus kehilangan orang yang mereka cintai.

Apa sebenarnya yang ingin diperjuangkan dengan cara seperti ini?

Kalau ada ketidakadilan, lawanlah ketidakadilan.

Kalau ada persoalan politik, perjuangkanlah melalui cara-cara politik.

Kalau ada luka sejarah, bicarakanlah dengan kepala dingin.

Tetapi jangan jadikan manusia yang sedang bekerja sebagai sasaran kemarahan.

Mereka yang bekerja sebagai guru, tenaga kesehatan, petugas pertanian, dokter hewan, ASN, maupun pekerja lainnya bukanlah musuh kalian.

Mereka datang bukan untuk berperang. Mereka datang untuk bekerja. Mereka datang membawa tugas. Mereka datang membawa harapan untuk masyarakat.

Jangan jadikan Papua sebagai tanah tempat orang-orang yang ingin mengabdi harus mempertaruhkan nyawanya.

Saya memahami bahwa konflik tidak pernah lahir tanpa sebab. Ada sejarah, ada persoalan, ada ketidakpuasan, ada luka yang mungkin belum selesai. Tetapi apa pun alasannya, membunuh orang yang tidak sedang menyerang kalian tidak akan menghidupkan kembali orang-orang yang telah lebih dahulu menjadi korban.

Kematian tidak pernah menyelesaikan kematian. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan berikutnya. Hari ini mungkin keluarga Willi yang menangis. Besok mungkin keluarga lain. Dan suatu hari, bisa saja yang menangis adalah keluarga dari orang-orang yang melakukan kekerasan itu sendiri.

Saudara-saudaraku di Papua, berhentilah sejenak. Lihatlah wajah keluarga yang kehilangan.🥲 Lihatlah anak-anak yang kehilangan orang tuanya.🥲 Lihatlah ibu yang kehilangan anaknya.🥲 Lihatlah orang-orang yang hanya ingin bekerja dan pulang dengan selamat.

Kalau perjuangan kalian adalah untuk masa depan Papua, maka jangan hancurkan masa depan itu dengan membuat masyarakat hidup dalam ketakutan.

Papua membutuhkan pendidikan. Papua membutuhkan kesehatan. Papua membutuhkan guru. Papua membutuhkan tenaga medis.

Papua membutuhkan petani, peternak, birokrat, pekerja, dan anak-anak muda yang mau mengabdi. Bukan lebih banyak makam.

Saya tidak tahu apakah surat ini akan pernah sampai kepada kalian.

Tetapi sebagai sesama manusia, saya ingin mengatakan satu hal: Cukuplah darah yang tertumpah. Jangan lagi ada Willi berikutnya. Jangan lagi ada Aprida berikutnya. Jangan lagi ada Alfonsius berikutnya. Biarkan mereka yang masih hidup pulang kepada keluarganya dengan selamat.

Kalau ada perbedaan, mari bicara. Kalau ada persoalan, mari cari jalan keluar. Kalau ada luka, mari kita obati dengan keadilan, bukan dengan menambah luka baru. Saya mungkin hanya seorang anak NTT yang jauh dari Papua. Tetapi ketika seorang anak NTT kehilangan nyawanya di tanah Papua, hati saya ikut terluka. Karena pada akhirnya, kita semua adalah manusia.

Dan tidak ada cita-cita, perjuangan, politik, ataupun kepentingan apa pun yang seharusnya membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan.

Untuk Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan:

Beristirahatlah dengan tenang. Kalian pergi dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan menerima pengabdian kalian dan memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Dari saya, seorang anak Nusa Tenggara Timur, untuk Papua dan untuk Indonesia.(fan)