Sejumlah analis politik menilai bahwa permintaan Presiden Donald Trump agar negara-negara Arab-Muslim meneken Abraham Accords sebagai syarat negosiasi damai dengan Iran tidak realistis. Trump pada 25 Mei lalu mengajukan inisiatif ini dengan mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran hanya akan tercapai jika negara-negara Muslim bergabung dalam perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel yang dikenal sebagai Abraham Accords.
Abraham Accords merupakan perjanjian diplomatik yang menormalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel, pertama kali dicetuskan selama masa pemerintahan Trump. Hingga saat ini, UEA, Bahrain, dan Maroko telah menandatangani perjanjian ini, sementara Sudan masih dalam proses dan belum resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Trump secara terbuka meminta agar Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, Pakistan, dan Turki turut bergabung dalam inisiatif ini.
Pengamat senior dari Royal United Services Institute dan Center for American Progress, H.A. Hellyer, menyatakan bahwa sentimen Arab terhadap Israel memburuk setelah serangan brutal Israel ke Gaza pada Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina. Ia menegaskan bahwa biaya politik untuk mendukung inisiatif normalisasi saat ini sangat tinggi bagi negara-negara tersebut, mengingat konflik yang masih berlangsung di Gaza dan ketegangan di wilayah lain seperti Tepi Barat, Lebanon, dan Dataran Tinggi Golan.
Pengamat Timur Tengah dari Chatham House, Yossi Mekelberg, juga menilai bahwa sikap negara-negara Muslim terhadap Israel kini semakin keras setelah tindakan militer di Gaza, sehingga kecil kemungkinan mereka akan bergabung dalam Abraham Accords. Ia menyebut inisiatif Trump ini sebagai upaya yang sekadar memberi harapan palsu kepada Israel, khususnya di tengah ketegangan dan kerusakan yang diakibatkan oleh kebijakan Israel di kawasan tersebut.
Meski Saudi sebelumnya telah melakukan pembicaraan intens mengenai kemungkinan bergabung dalam Abraham Accords, langkah ini terhenti setelah serangan Israel ke Gaza. Saudi menegaskan tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa solusi kemerdekaan Palestina. Hellyer menyebut bahwa jika Saudi memutuskan untuk bergabung, itu akan didasarkan pada keinginan mereka sendiri, bukan tekanan dari pihak luar. Sementara itu, mantan diplomat AS, Barbara A. Leaf, meragukan negara-negara Arab dan Muslim akan menyetujui permintaan Trump karena situasi global yang sedang kompleks. Banyak analis menilai bahwa inisiatif Trump ini lebih sebagai langkah politik untuk menenangkan Israel sambil melakukan kesepakatan dengan Iran, musuh utama Israel.

