Jakarta – Menteri Luar Negeri Israel secara resmi mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) saat ketegangan dengan Iran memuncak. Kunjungan ini berlangsung di tengah Operasi Roaring Lion, operasi militer Israel yang bergabung dengan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan ke Iran sejak 28 Februari lalu.
Menurut kantor Perdana Menteri Israel, kunjungan tersebut menandai terobosan penting dalam hubungan diplomatik antara Israel dan UEA. Ini merupakan pertemuan pertama yang secara terbuka diungkapkan sejak penandatanganan Perjanjian Abraham pada 2020. Kunjungan ini juga didukung oleh kedatangan pejabat intelijen Israel seperti Mossad dan Shin Bet yang melakukan koordinasi terkait operasi militer di kawasan.
Selain itu, pejabat AS seperti Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan bahwa Israel telah mengirim baterai pertahanan udara Iron Dome ke UEA untuk membantu melindungi negara tersebut dari serangan balasan Iran. UEA sendiri turut diduga terlibat dalam serangan terhadap fasilitas Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan awal April lalu, meski menegaskan tidak mengetahui kunjungan Netanyahu.
Namun, pemerintah UEA secara tegas membantah seluruh laporan terkait kunjungan rahasia Netanyahu. Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa tidak ada kunjungan resmi atau pengaturan yang tidak diumumkan ke negara mereka dan meminta media agar tidak menyebarkan informasi yang tidak terdokumentasi, demi menjaga hubungan diplomatik dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, mantan juru bicara Perdana Menteri Israel, Ziv Agmon, mengklaim bahwa Netanyahu memang disambut secara hormat di Abu Dhabi dan bahwa kesepakatan yang dicapai selama kunjungan ini akan menjadi warisan bersejarah yang akan dibicarakan selama beberapa generasi. Pengakuan ini memperlihatkan adanya kesepahaman yang mendalam, meskipun pemerintah UEA tetap berusaha menutupi kunjungan tersebut dari publik.

