Iran dikabarkan mencapai kesepakatan dengan pihak internasional untuk memindahkan sejumlah uranium yang diperkaya ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya menanggapi usulan mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu. Informasi ini mengemuka dari sumber yang dekat dengan Iran dan dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Menurut sumber tersebut, Iran bersedia mengurangi sebagian uranium yang diperkaya dan mengirimkannya ke negara ketiga. Namun, ada syarat ketat yang diajukan oleh Teheran, termasuk jaminan bahwa uranium tersebut akan dikembalikan jika perundingan gagal dan penolakan terhadap pembongkaran fasilitas nuklirnya. Iran menegaskan bahwa proposal AS masih menyisakan perbedaan mendalam terkait program nuklir mereka.
Seorang pejabat Iran yang ikut serta dalam komunikasi melalui mediator mengonfirmasi adanya tanggapan resmi dari Teheran terhadap proposal Amerika Serikat, meskipun rincian lebih lanjut belum diungkapkan. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa prioritas utama Iran saat ini adalah mengakhiri perang, demi stabilitas kawasan dan keamanan regional.
Selain isu nuklir, usulan AS juga mencakup izin pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian blokade terhadap kapal-kapal Iran dalam waktu satu bulan. Meski kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata sejak 8 April yang telah diperpanjang, perundingan lanjutan masih berlangsung dengan berbagai tantangan, termasuk ketegangan terkait program nuklir dan keamanan di kawasan.
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden AS Donald Trump tetap mengingatkan Iran bahwa Washington dapat mengambil langkah berbeda jika perjanjian tidak tercapai. Dugaan kembali aktifnya operasi militer, termasuk rencana peluncuran Project Freedom untuk mengontrol jalur pelayaran di Selat Hormuz, turut memperkeruh situasi, sementara konflik di kawasan Timur Tengah terus memanas.

