Iran meminta warganya untuk mengurangi konsumsi listrik dan gas sebagai langkah mengantisipasi dampak blokade yang dilakukan Amerika Serikat (AS) di jalur perairan pelabuhan Teheran. Sejak 13 April lalu, kapal-kapal Angkatan Laut AS secara aktif memblokade jalur dari dan ke pelabuhan Iran sebagai respons terhadap ketegangan di Selat Hormuz.
Pejabat Iran, Masoud Pezeshkia, menyatakan bahwa masyarakat harus turut berpartisipasi dalam pengelolaan energi nasional guna mencegah tekanan pada jaringan energi negara. Ia menegaskan pentingnya penghematan energi dalam situasi sulit ini. Wakil Presiden Iran Saghab Esfahani juga memperkuat imbauan tersebut, menyarankan warga mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebanyak satu hingga satu setengah liter per hari untuk membantu meringankan beban ekonomi yang meningkat akibat blokade dan sanksi internasional.
Iran menghadapi tekanan ekonomi yang besar setelah blokade tersebut, yang diperkuat dengan sanksi internasional yang masih berlaku. Jalur strategis Selat Hormuz, yang ditutup Iran sejak 28 Februari setelah diserang oleh pasukan AS dan Israel, kini menjadi pusat ketegangan. Meskipun gencatan senjata diumumkan pada 8 April, Iran belum membuka kembali jalur tersebut, yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Konflik memanas ketika AS mendesak Iran membuka blokade di Selat Hormuz, sementara Iran menegaskan mereka akan mempertahankan langkah tersebut. Beberapa insiden, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak Iran yang dilaporkan dilakukan AS, menimbulkan ketegangan yang semakin tinggi. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tetap berlaku, meskipun ketegangan terus berlangsung di kawasan.

