Di tengah ketegangan tinggi dan blokade laut yang diterapkan oleh Amerika Serikat, kapal-kapal Iran terus melintasi Selat Hormuz melalui jalur rahasia yang tidak terpantau secara publik. Data terbaru dari firma intelijen maritim, Kpler, mengungkapkan bahwa sebagian besar kapal yang melewati jalur strategis ini selama beberapa hari terakhir memilih rute yang dikendalikan oleh otoritas Iran.
Menurut data tersebut, sebanyak 17 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz dari Jumat (24/4) hingga Minggu (25/4). Dari jumlah tersebut, empat kapal tanker besar membawa muatan penuh, dengan dua di antaranya berangkat dari Iran dan dua lainnya dari Uni Emirat Arab. Kapal terbesar yang terdeteksi adalah Jiaolong milik perusahaan Yunani, yang berangkat dari UEA dan tiba di pelabuhan Sikka, India, pada Senin (26/4).
Meski pelayaran di jalur ini mengalami penurunan drastis—hanya sekitar 5% dari rata-rata sebelum konflik AS-Iran—jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz tetap ada, menandakan adanya jalur alternatif yang digunakan Iran untuk menghindari blokade. Situasi ini menyebabkan kekhawatiran akan kelangkaan produk minyak olahan, khususnya di kawasan Asia, akibat menurunnya volume pengiriman melalui jalur strategis ini.
Teheran menegaskan akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, meskipun Amerika Serikat mengklaim telah menyita setidaknya dua kapal dan mencegat 38 kapal terkait Iran sejak awal blokade dimulai. Sementara itu, ketegangan ini menunjukkan bahwa kapal-kapal Iran secara aktif menghindari blokade dengan memanfaatkan jalur rahasia yang tidak mudah terdeteksi, menunjukkan tantangan besar bagi upaya AS dalam mengontrol jalur pelayaran strategis ini.

