Sejumlah puluhan veteran militer Amerika Serikat harus berurusan dengan aparat kepolisian setelah mengikuti aksi protes menentang perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Aksi yang berlangsung di depan Kantor Kongres, Capitol Hill, ini diikuti sekitar 60 peserta yang sebagian besar mengenakan seragam militer, dan membawa spanduk bertuliskan "Akhiri Perang di Iran" serta "Kita Tidak Mampu Membiayai Perang Lain".
Dalam aksi tersebut, para veteran melakukan upacara melipat bendera sebagai simbol penghormatan kepada tentara dan warga sipil yang gugur selama konflik yang dipicu oleh kebijakan Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak 28 Februari lalu. Beberapa peserta juga memegang bunga tulip merah sebagai simbol penghormatan terhadap warga Iran yang menjadi korban perang.
Direktur Eksekutif Center on Conscience and War (CCW), Mike Prysner, menyebut bahwa perang tersebut semakin tidak populer dan menimbulkan krisis besar bagi pemerintahan Trump. Ia menambahkan bahwa lebih dari 100 anggota militer telah mengajukan penolakan wajib militer dan menegaskan bahwa semakin banyak yang berani berbicara, peluang bagi mereka untuk memaksa pemerintah menarik diri dari konflik ini semakin besar.
Sementara itu, polisi Capitol menembak dan menangkap puluhan peserta aksi karena dianggap melakukan tindakan pembangkangan sipil. Organisasi-organisasi seperti About Face, Veterans for Peace, dan Military Families Speak Out turut mengorganisasi demonstrasi ini sebagai bentuk penolakan terhadap perang yang dipicu oleh kebijakan AS dan sekutunya di Timur Tengah.

