Dalam dinamika geopolitik dan ekonomi global, istilah Petrodolar semakin mencuat, terutama dalam konteks perdagangan minyak dan pengaruh Arab Saudi. Sistem ini mengacu pada praktik internasional membayar minyak dengan dolar AS, yang mulai diterapkan sejak perjanjian antara AS dan Arab Saudi pada 1974.
Perjanjian tersebut menyatakan bahwa Arab Saudi akan menjual minyak hanya dalam dolar AS, sebagai imbalan atas perlindungan militer dan investasi dari Amerika Serikat. Kesepakatan ini menjadi fondasi utama dari dominasi dolar dalam transaksi minyak dunia, yang kemudian dikenal sebagai sistem Petrodolar.
Menurut buku karya Robert Lacey berjudul "Kerajaan Petrodollar Arab Saudi," keberhasilan Arab Saudi sebagai penghasil minyak besar tak lepas dari lapisan tanah kaya minyak yang disebut "Arab-D." Keberadaan sumber daya ini memicu kerjasama ekonomi dan politik yang erat dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, sekaligus memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan global.
Sejarah sistem Petrodolar turut terkait dengan perubahan besar dalam sistem moneter internasional. Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada awal 1970-an dan meninggalkan standar emas, Petrodolar muncul sebagai solusi untuk menjaga kestabilan dolar dalam transaksi internasional. Kini, istilah ini tidak hanya digunakan oleh Arab Saudi, tetapi juga oleh negara-negara Timur Tengah penghasil minyak lainnya, menegaskan pengaruh besar sistem ini dalam perekonomian dunia.

