Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan. Pertemuan yang berlangsung hingga dini hari itu gagal menemukan solusi atas berbagai isu krusial, termasuk program nuklir dan pengelolaan Selat Hormuz.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa kedua pihak tidak mencapai kesepakatan dan menganggap kegagalan ini sebagai berita buruk bagi Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat sudah menyampaikan batasan-batasannya secara tegas sebelum meninggalkan Islamabad. Di sisi lain, Israel menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan gelombang serangan baru terhadap Iran, mengingat tidak adanya kesepakatan yang mengikat kedua negara.
Dalam konteks program nuklir Iran, ketegangan utama terletak pada perbedaan pandangan mengenai penghentian pengayaan uranium dan pembongkaran fasilitas nuklir. Iran menegaskan haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir secara damai, sementara AS menuntut penghentian total aktivitas pengayaan uranium dan penghapusan fasilitas nuklir. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa Iran merasa dikhianati oleh AS selama negosiasi dan menuntut jaminan bahwa situasi tidak akan kembali memicu konflik.
Selain masalah nuklir, polemik pengelolaan Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam negosiasi. Iran menegaskan bahwa jalur strategis tersebut merupakan perairan nasional dan menuntut tarif yang wajar untuk kapal yang melintas. Amerika Serikat, melalui usulan pengelolaan bersama, ditolak oleh Iran yang menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah bagian dari wilayah mereka dan Oman. Ketegangan ini semakin diperumit oleh penutupan sementara selat yang dipicu oleh serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang berimbas besar terhadap stabilitas pasar energi global.
Gagalnya negosiasi ini menunjukkan bahwa ketegangan politik dan perbedaan kepentingan antara AS dan Iran masih sangat tinggi. Situasi ini berpotensi memperburuk konflik di kawasan dan meningkatkan tekanan terhadap upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan yang terus membesar.

