Iran mempertegas kesiapan menghadapi respons dari Amerika Serikat setelah Presiden AS memberikan ultimatum selama 48 jam agar Teheran membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat militer Iran yang memperingatkan bahwa tindakan agresif Amerika akan berakibat fatal.
Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, mengingatkan bahwa jika Amerika terus melakukan serangan terhadap Iran, maka pintu neraka akan terbuka untuk mereka. Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh juru bicara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, yang menegaskan bahwa eskalasi permusuhan akan membawa konsekuensi buruk bagi kawasan.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengultimatum Iran agar membuka kembali jalur penting tersebut dalam waktu 48 jam. Ia bahkan mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika langkah tersebut tidak diambil, menyatakan bahwa waktu tinggal sedikit dan neraka akan menimpa Iran jika tidak mematuhi.
Ketegangan di kawasan Teluk semakin memuncak setelah serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran pun menyebabkan lonjakan harga minyak dunia dan memperburuk ketegangan regional yang sudah memanas.

