Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan bahwa Iran mulai melunak dan bersedia duduk bersama untuk mencapai kesepakatan damai di tengah konflik yang memasuki bulan kedua. Pernyataan Trump ini disampaikan melalui media sosial dan menyebutkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengirim sinyal positif untuk melakukan perundingan.
Namun, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa pernyataan Trump adalah tidak benar. Dalam siaran televisi nasional, Baqaei menyatakan bahwa klaim tersebut "salah dan tidak berdasar," menegaskan bahwa Iran tetap teguh pada posisi mereka dan menolak diplomasi yang diusulkan oleh AS.
Sejak akhir Februari, ketegangan antara Iran dan koalisi AS serta Israel meningkat dengan serangkaian serangan dan intervensi militer. Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran mulai melunak dan mengisyaratkan kesiapan untuk berunding, termasuk komentar bahwa rezim Iran saat ini lebih cerdas dan tidak terlalu radikal dibanding pendahulunya. Ia juga menegaskan bahwa jika jalur pelayaran Selat Hormuz tetap tertutup, AS siap melakukan serangan habis-habisan terhadap Iran.
Selain itu, Trump mengungkapkan bahwa AS dan sekutunya sudah mempertimbangkan kemungkinan menghentikan perang meskipun jalur minyak vital tersebut masih tertutup, dan mengindikasikan bahwa konflik ini bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Ketegangan ini menunjukkan risiko eskalasi yang berpotensi mengancam stabilitas regional dan global, mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama pengangkutan minyak dunia.
Konflik Iran-AS ini terus memanas, sementara diplomasi internasional berharap adanya jalan keluar yang damai dari ketegangan yang makin dalam. Perkembangan terbaru ini menyoroti pentingnya peran diplomasi dan upaya internasional dalam menenangkan situasi yang rentan terhadap perang skala besar.

