Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Ketegangan di Selat Bab Al Mandab Meningkat, Ancaman Penutupan oleh Houthi

Ketegangan di Selat Bab Al Mandab Meningkat, Ancaman Penutupan oleh Houthi
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca7 kali dibaca

Situasi di Selat Bab Al Mandab semakin memanas setelah pernyataan dari Wakil Menteri Informasi pemerintahan Houthi, Mohammed Mansour, yang mengisyaratkan kemungkinan penutupan jalur strategis tersebut. Ia menyatakan bahwa Houthi tengah mempertimbangkan menutup selat sebagai langkah untuk menekan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang sedang berlangsung di Yaman dan sekitarnya.

Selat Bab Al Mandab, yang hanya berjarak 32 kilometer, merupakan jalur utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi pintu masuk ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez. Sekitar 12 persen perdagangan minyak global melewati kawasan ini, dan prediksi menunjukkan bahwa rata-rata 4,2 juta barel minyak per hari melintas di sana pada tahun 2025. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan biaya dan keterlambatan pengiriman yang signifikan, bahkan bisa menyebabkan rantai pasok global terganggu.

Sejak Israel melancarkan serangan di Jalur Gaza pada Oktober 2023, Houthi turut meningkatkan aksi militer mereka dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta ke jalur pelayaran Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina. Situasi ini tak hanya meningkatkan risiko konflik regional, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan potensi blokade yang membahayakan lalu lintas perdagangan internasional.

Para analis memperingatkan bahwa keterlibatan Iran di wilayah ini memperbesar kemungkinan eskalasi konflik. Pejabat Iran bahkan mengancam akan membuka front baru di Laut Merah jika terjadi serangan militer terhadap pulau-pulau Iran atau wilayah strategis lainnya. Mereka menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan dan niat untuk mengganggu jalur strategis seperti Selat Bab Al Mandab, yang dianggap sebagai salah satu jalur paling vital di dunia. Ketegangan ini menjadi ancaman nyata terhadap kestabilan regional dan keamanan global, mengingat kawasan ini juga menjadi tempat bermarkasnya pangkalan militer utama berbagai negara dunia.

Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan penutupan atau gangguan lain yang bisa memperparah krisis energi global dan memperlambat arus perdagangan internasional yang sangat bergantung pada jalur ini. Dengan situasi yang terus berkembang, dunia menanti langkah-langkah diplomatik dan militer selanjutnya dari berbagai pihak yang berkepentingan di kawasan ini.