Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Sejarah Ketegangan Iran dan Negara Teluk yang Kini Memanas

Sejarah Ketegangan Iran dan Negara Teluk yang Kini Memanas
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca0 kali dibaca

Ketegangan di Timur Tengah kembali mencuat seiring meningkatnya konflik antara Iran dan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA. Situasi ini memunculkan gambaran seperti "perang dingin" di kawasan, mengingat rivalitas panjang antara Iran dan negara-negara Arab yang dipicu oleh berbagai faktor kompleks.

Rivalitas ini berakar dari perbedaan teologis, geopolitik, dan kekhawatiran akan ketidakstabilan regional. Iran, sebagai negara Persia dengan ideologi Syiah, kerap bersaing dengan sekutu Barat dan negara Arab mayoritas Sunni, seperti Arab Saudi, yang ingin mempertahankan kekuasaan dan stabilitas monarki mereka. Ketegangan ini diperparah oleh kekhawatiran terhadap pengaruh Revolusi Islam 1979 yang dianggap mengancam stabilitas kerajaan di kawasan.

Program nuklir Iran menjadi salah satu isu utama yang memperuncing ketegangan, ditambah dengan kritikan Iran terhadap hubungan negara-negara Teluk dengan Barat. Peneliti di Atlantic Council, Holly Dagres, menyebut bahwa kebijakan Iran didasari oleh keinginan dihormati sebagai kekuatan regional dan untuk memiliki posisi tawar yang sama dengan tetangga seperti Arab Saudi. Ia berpendapat bahwa Iran juga berusaha menunjukkan kekuatannya melalui proksi, guna membalas ancaman dari musuh-musuhnya, termasuk Israel dan sekutu Barat lainnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Iran dan negara-negara Teluk bukan sekadar persaingan politik, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor agama dan geopolitik yang kompleks. Ketegangan ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah tetap rawan konflik yang berkepanjangan, menuntut diplomasi dan pendekatan strategis dari seluruh pihak terkait.