Gedung Putih kembali menjadi pusat perhatian setelah Pemerintah Amerika Serikat menempatkan replika patung Christopher Columbus di halaman Kantor Eksekutif Eisenhower, bersebelahan dengan Gedung Putih. Langkah ini merupakan bagian dari upaya terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menghormati tokoh penjelajah yang kontroversial tersebut, meskipun menimbulkan berbagai reaksi.
Patung berukuran besar yang terbuat dari marmer ini adalah replika dari patung yang sebelumnya dilempar ke pelabuhan Baltimore pada Juli 2020. Saat itu, aksi pelemparan terjadi di tengah gelombang protes nasional terkait isu rasisme dan penindasan terhadap penduduk asli Amerika, setelah kematian George Floyd akibat kekerasan aparat.
Presiden Trump secara tegas mendukung pandangan tradisional tentang Columbus sebagai pelopor perjalanan penjelajah tahun 1492, yang dianggap sebagai awal kolonisasi Eropa di Amerika dan tonggak pengembangan ekonomi serta politik modern. Namun, di mata banyak pihak, Columbus juga diakui sebagai simbol penaklukan dan eksploitasi terhadap penduduk asli dan sumber daya mereka.
Sejumlah kalangan menyambut baik penempatan patung tersebut. John Pica, Presiden Italian American Organizations United, menyatakan, "Di Gedung Putih ini, Christopher Columbus adalah pahlawan, dan Presiden Trump akan memastikan ia dihormati sebagai pahlawan untuk generasi mendatang." Ia juga menambahkan bahwa patung tersebut kini berada di tempat yang aman dan dihormati, setelah sebelumnya dilempar dan dihancurkan oleh para demonstran. Langkah ini menuai kritik dari kelompok yang menilai Columbus sebagai simbol kekerasan dan penindasan terhadap masyarakat adat, sementara pendukung menganggapnya sebagai penghormatan terhadap waris budaya Italia dan penjelajah yang bersejarah.

