Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran menunjukkan kekuatan militernya dengan stok rudal yang dikabarkan melimpah. Negeri Republik Islam ini diketahui memiliki persediaan rudal balistik terbesar di kawasan, dengan jumlah diperkirakan antara 2.500 hingga 6.000 unit, serta fasilitas peluncuran bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk sekitar Teheran.
Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, ketegangan semakin memuncak. Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kemampuan rudal Iran telah dihancurkan secara fungsional, pejabat militer Amerika menegaskan bahwa Teheran masih memiliki sebagian besar kapasitas serangannya. Iran juga dikenal sebagai produsen drone besar, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 10.000 unit per bulan, termasuk drone jenis Shahed yang sudah digunakan dalam konflik di Ukraina.
Di tengah klaim saling berbalasan, Israel menegaskan kemampuannya dalam menekan kekuatan rudal Iran, setelah ratusan peluncur dihancurkan dan fasilitas produksi diserang. Sebaliknya, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa stok rudalnya masih cukup dan produksi terus berjalan. Meski intensitas serangan menurun, serangan rudal dan drone tetap dilaporkan terjadi, terutama yang menargetkan fasilitas energi di kawasan Teluk, yang dapat mengganggu pasokan energi global dan menjaga ketegangan di kawasan.
Para analis memperingatkan bahwa meskipun frekuensi serangan berkurang, potensi ancaman Iran tetap tinggi. Setiap serangan mampu mengganggu stabilitas regional dan rantai pasok energi internasional, sehingga menjadikan situasi ini tetap menjadi perhatian utama bagi negara-negara besar di dunia.

