Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Teroris KKB Papua Manfaatkan Anak-anak Jadi Mata-mata, Dua Pucuk Senjata SS1 Ditemukan di Perbatasan RI-PNG

20210603 162530
20210603 162530Foto / PAPUA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Jakarta, fajarpapua.com- Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw mengungkapkan teroris Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua banyak memanfaatkan anak-anak menjadi mata-mata yang memberikan informasi terkait rahasia Polri kepada mereka.

Untuk itu, Polri saat ini menghentikan program pembimbingan terhadap Tenaga Bantuan Operasi (TBO) yang selama ini dilakukan untuk mengajar anak-anak terutama di pedalaman.

Bahkan, kata mantan Kapolda Papua ini, selama ini ada anak-anak yang disekolahkan di kantor polisi.

"Karena banyak guru yang ketakutan, jadi banyak anak yang diajar oleh aparat kepolisian dan memang ada beberapa komplain dari beberapa pihak, anak muda usia segini kenapa dianggap sebagai bagian dari kelompok itu," kata Paulus dalam dialog Kebangsaan Lintas Generasi Papua yang diselenggarakan oleh UKI Jakarta.

Rata-rata yang diajar oleh aparat kepolisian sebenarnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja.

Sehingga menurutnya cukup mencengangkan karena anak yang baru remaja berani membeberkan strategi kepolisian dalam melumpuhkan kelompok penyerang. Strategi yang dibeberkan bahkan cukup mendetail.

"Ada juga anak-anak yang kita jadikan TBO ya istilahnya. Kita bimbing, kita sekolahkan di Polsek-polsek itu. Hampir rata-rata anak-anak itu tingkat SD sampai SMP," ungkapnya.

"Begitu sudah remaja, mereka ini yang sering jadi cucuk penunjuk arah untuk masuknya kelompok kekerasan itu menyerang anggota kita. Mereka yang nanti memberikan bocoran," lanjutnya.

Karena banyak anak-anak yang menjadi informan, Paulus pun memutuskan untuk menghentikan kegiatan pembimbingan TBO itu.

Pihaknya juga memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh anggotanya.

Menurutnya, keputusan tersebut sudah tepat. Dia khawatir jika kegiatan tersebut dilanjutkan, maka akan timbul permasalahan yang lebih besar hingga merugikan negara.

"Kami instruksikan agar tidak ada lagi kegiatan yang mengangkat anak-anak. Kita akan lihat akibat dari persoalan seperti ini," tuturnya.

Dia tidak ingin, hal tersebut bisa menambah korban jiwa dari pihak kepolisian.

Karena kata Paulus, anggotanya bukan hanya gugur di tangan KKB, namun gugur di tangan Orang Tak Dikenal (OTK) di Papua.

Saat ini, kata Paulus, pihaknya masih melakukan upaya tegas dan terukur terhadap kelompok KKB, meskipun para KKB dan OTK itu melakukan penyerangan yang masif.

"Sebisa mungkin Polri melakukan soft approach dengan mengedepankan humanisme," ujarnya.

Paulus mengatakan, TNI-Polri berupaya untuk menghadirkan para guru, tenaga kesehatan, para tokoh. Baik itu tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan dan anak muda.

"Mereka melakukan tindakan masif kemana-mana, melibatkan pihak yang tidak berdosa. ini alasan mereka kita kategorikan sebagai kelompok teror. Nah kami sangat hati-hati menangani mereka. tidak mau serampangan, hanya melakukan tindakan tegas, tapi tidak terukur yang akhirnya bisa salah sasaran," ungkapnya.

Dua Pucuk SS 1 Ditemukan di Perbatasan

Sementara, dua senjata api jenis SS1 V1 milik Polri yang diambil sekelompok orang tak dikenal di Polsubsektor Oksamol, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada Rabu (2/5), ditemukan di rumah singgah yang terletak di perbatasan RI-PNG.


 
Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito, Kamis, membenarkan senpi SS1 V1 sudah diamankan beserta amunisi.

Temuan tersebut setelah Tim Gabungan Brimob Polda Papua dan Polres Pegbin mendapat informasi dari warga tentang adanya rumah di pinggir sungai yang biasa digunakan sebagai rumah singgah.

Setelah mendapat informasi tim bergerak dan berjalan sekitar lima jam hingga mendekati perbatasan dengan PNG dan saat didekati di dalamnya ditemukan dua pucuk senjata api SS1 beserta amunisi.

"Kemungkinan senpi revolver dibawa pelaku, " ungkap Cahyo seraya mengakui hingga kini belum bisa memastikan siapa pelaku penyerangan yang menewaskan Briptu Mario Sanoy serta mengambil tiga pucuk senpi.(ant/mas)