Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Kantor di Pinggiran, Pegawai Dinas Kesehatan Jayawijaya Selalu Diteror, Kerja Seperti di "Medan Perang"

Merah putih
Merah putihFoto / PAPUA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

Jayapura, fajarpapua.com - Bertugas di daerah rawan seperti Jayawijaya tidaklah mudah. Daerah yang sering dilanda konflik itu acapkali mengancam keselamatan aparatur negara.

Terkini, Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua mengaku diteror, bahkan teror yang mereka alami sudah berulangkali.

Selain teror, para ASN Dinkes juga sering dipalak, jambret bahkan dirampok.

Buntutnya, mereka berencana menemui Bupati Jayawijaya untuk menyampaikan keluhan terkait apa yang mereka alami.

Salah seorang ASN Dinkes Jayawijaya Isay Komba dikonfirmasi Sabtu (6/3) mengatakan sejak masuk ke Kantor Dinkes di Musaima, Distrik Hubikiak, pada 2017 hingga saat ini situasi kurang kondusif.

"ASN yang ada di lingkungan Dinkes Jayawijaya telah sepakat dan melakukan penandatanganan di atas kertas dan direncanakan pada Senin (8/3), akan melakukan pertemuan dengan Bapak Bupati," katanya.

Beberapa hal yang nantinya disampaikan kepada Bupati adalah meminta kantor dari Musaima ke wilayah kota atau ke tempat yang aman. Sebab, dampak psikis yang mereka alami bekerja seperti di medan perang.

"Hal lain yang nantinya disampaikan kepada Bupati adalah sering terjadi ancaman, pemukulan, penjambretan serta pemalangan jalan terhadap staf dinas kesehatan," ungkap Isay.

Dikatakan pada 1 Maret 2021, seorang pemuda membawa parang dan mengancam membunuh staf. Pemuda itu mendobrak pintu Kantor Dinkes.

"Selain itu kalau dilihat dari kedudukan kantor dinas kesehatan yang jauh di luar kota, sangat mempersulit pengambilan dan pengembalian vaksin," katanya.

Kendala lain yang dihadapi adalah sulitnya akses internet dan transportasi dari rumah ke kantor.

"Kebanyakan pegawai dinkes tidak memiliki kendaraan sehingga harus mengeluarkan biaya perharinya sebesar Rp60.000. Jaringan internet tidak bisa diakses dengan baik sehingga mempengaruhi penginputan rencana kegiatan. Padahal saat ini semua bekerja menggunakan aplikasi secara online," katanya.(ant/ana)