Iran mengklaim telah melakukan uji coba perdana terhadap sistem pertahanan udara terbaru yang dikembangkan secara lokal, bernama Arash e-Kamangir, dengan menembak jatuh pesawat tak berawak MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di sekitar Pulau Qeshm, menandai kemampuan Iran dalam mempertahankan wilayahnya dari ancaman luar.
Menurut laporan media Iran, sistem Arash e-Kamangir mampu mendeteksi dan menembak drone pengintai 'musuh' di atas Selat Hormuz, termasuk yang memiliki kemampuan siluman. Kantor berita Iran, Fars, menyebutkan bahwa penggunaan sistem ini merupakan pesan tegas dari Iran kepada pihak asing, menunjukkan bahwa negara tersebut tetap mampu mengatasi serangan dari Amerika Serikat dan Israel, meski sudah berbulan-bulan menghadapi tekanan dan serangan dari kedua negara tersebut.
Sistem pertahanan Arash e-Kamangir, yang namanya terinspirasi dari pahlawan mitologi Persia, dikembangkan untuk menandai kemampuan teknologi militer Iran yang terus meningkat. Meski begitu, para pengamat militer memperingatkan agar klaim ini disikapi secara hati-hati, mengingat sejarah Iran yang kerap mengumumkan kemajuan militer yang sulit diverifikasi secara independen, termasuk soal kemampuan sistem ini sendiri.
Ahli militer dari King's College London, Mark Hilborne, menyatakan bahwa meski informasi tentang sistem Arash-e Kamangir masih terbatas, insiden ini konsisten dengan tren peningkatan kemampuan Iran dalam desain rudal dan sistem pertahanan murah namun efektif. Ia menambahkan, langkah Iran ini menunjukkan kecerdikan mereka dalam mengembangkan teknologi militer yang mampu mengancam sistem pertahanan yang lebih kompleks dari negara lain, seperti yang terlihat dalam konflik di Ukraina.

