Presiden China, Xi Jinping, menegaskan perlunya mengakhiri konflik di Timur Tengah melalui langkah diplomasi dan gencatan senjata menyeluruh. Dalam pertemuan bilateral di Beijing, Xi menyatakan bahwa melanjutkan permusuhan hanya akan memperburuk situasi dan menghambat upaya perdamaian yang mendesak.
Pertemuan langsung antara Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, berlangsung tak lama setelah kunjungan Putin ke China, yang dilaksanakan beberapa hari setelah kedatangan Presiden AS Donald Trump di negara itu. Banyak pengamat melihat bahwa kunjungan Putin bertujuan memperkokoh hubungan Rusia-China dan memperluas kerja sama, terutama di sektor energi.
Isu energi global menjadi perhatian utama, mengingat ketegangan di Timur Tengah yang menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas. Ketegangan ini semakin meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur penting yang mengontrol sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Dalam pertemuan, Xi menekankan bahwa penghentian konflik di Timur Tengah akan membantu menstabilkan pasokan energi global dan menjaga kelancaran rantai industri serta perdagangan internasional.
Xi Jinping juga mengingatkan tentang proposal empat poin yang pernah diajukan saat bertemu dengan Uni Emirat Arab, yang berfokus pada upaya menjaga dan memajukan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa diplomasi ini bertujuan membangun konsensus internasional, mendukung de-eskalasi ketegangan, dan mengakhiri permusuhan di kawasan tersebut.

