Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Taiwan Tegaskan Tidak Akan Jual Diri demi Perdamaian Regional

Taiwan Tegaskan Tidak Akan Jual Diri demi Perdamaian Regional
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca5 kali dibaca

Jakarta, Fajar Papua — Taiwan menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah dijual demi menjaga stabilitas dan keamanan kawasan. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, menyusul pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan bisa digunakan sebagai alat tawar-menawar dengan China.

Wu menegaskan bahwa penjualan senjata dari Amerika Serikat kepada Taiwan merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan perdamaian regional. Ia menambahkan bahwa Taiwan, sebagai pusat industri teknologi AI dan pembuatan chip semikonduktor dunia, memiliki posisi strategis yang tidak boleh dikorbankan atau dipertukarkan. Wu juga menegaskan bahwa Taiwan tidak akan mengorbankan demokrasi dan kemerdekaannya demi kepentingan apapun.

Pernyataan ini muncul setelah Trump menyelesaikan kunjungan ke Beijing, di mana ia menyatakan bahwa penjualan senjata ke Taiwan tergantung pada China dan bisa menjadi alat negosiasi yang efektif. Sikap ini menimbulkan kekhawatiran di Taipei, yang menganggap penjualan senjata dari AS sebagai komitmen keamanan yang penting. Meski begitu, secara hukum, AS berkomitmen untuk menyediakan alat pertahanan, namun ketentuan mengenai intervensi militer langsung masih ambigu.

Di sisi lain, Ketua DPR AS, Mike Johnson, mendukung sikap Taipei dan menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menunjukkan kekuatan. Ia menegaskan bahwa China tidak bisa begitu saja merebut tanah Taiwan. Sementara itu, parlemen Taiwan telah menyetujui anggaran pertahanan sebesar US$25 miliar untuk pembelian senjata dari AS, dan keputusan terkait penjualan senjata masih dipertimbangkan Presiden Trump.

Wu menambahkan bahwa China merupakan penyebab utama ketidakstabilan di kawasan dan menegaskan bahwa Taiwan akan terus mempertahankan status quo demokratis. Ia menegaskan bahwa Taiwan sudah merasa merdeka dan tidak perlu deklarasi resmi kemerdekaan, karena status tersebut sudah diakui secara de facto. Amerika Serikat sendiri mengakui keberadaan Beijing sebagai pemerintah sah, tetapi secara tidak langsung mendukung keberlangsungan demokrasi Taiwan tanpa secara eksplisit menyatakan kemerdekaan.