Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Festival Air di Kuala Lumpur Picu Kontroversi Budaya dan Keagamaan

Festival Air di Kuala Lumpur Picu Kontroversi Budaya dan Keagamaan
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi1 menit baca8 kali dibaca

Festival Rain Rave Water Music di Kuala Lumpur memicu ketegangan budaya dan keagamaan di Malaysia. Acara yang didukung pemerintah ini menuai kritik keras dari kelompok konservatif yang menilai sebagai budaya impor yang bertentangan dengan nilai moral lokal.

Ketegangan meningkat saat Departemen Agama Islam Wilayah Persekutuan (Jawi) mengeluarkan pernyataan tegas sebelum acara dimulai. Direktur Jawi, Hanifuddin Roslan, memperingatkan bahwa festival tersebut berpotensi menimbulkan "kerusakan moral" dan merusak nilai-nilai sosial masyarakat Malaysia yang beragam.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Malaysia, Tiong King Sing, membela acara ini dan menuding kritik yang datang sebagai bentuk politisasi serta standar ganda. Ia menyoroti ketidakhadiran protes serupa saat perayaan budaya lain di negara bagian Kedah yang dipimpin oleh partai Islam PAS, menegaskan bahwa acara ini diawasi ketat oleh pihak berwenang untuk menjaga ketertiban.

Festival yang menampilkan DJ internasional seperti Wukong dan Bassjackers serta musisi lokal seperti Joe Flizzow dan girl group Dolla ini dihadiri lebih dari 7.000 orang dan menjadi bagian dari promosi pariwisata nasional. Meski mendapatkan kritik di media sosial, sejumlah warga membela dengan berargumen bahwa bersenang-senang bukanlah hal yang ilegal, menegaskan bahwa acara ini tetap menjadi tantangan dalam menyeimbangkan target devisa dan sentimen religius menjelang Tahun 2026.