Kim Jong Un mengungkapkan penghormatan dan apresiasi terhadap tentara Korea Utara yang memilih mengakhiri hidup mereka daripada tertangkap oleh pasukan Ukraina. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah pidato saat upacara penghormatan kepada para prajurit dan keluarga mereka, di mana Kim menyebut tentara yang bunuh diri sebagai pahlawan sejati.
Dalam pidatonya, pemimpin Korea Utara menegaskan bahwa keberanian para tentara yang mengorbankan nyawa demi menjaga kehormatan negara patut dihormati. Ia menyatakan, "Bukan hanya pahlawan yang rela mengorbankan nyawa untuk membela negara, tetapi juga mereka yang gugur di garis depan pertempuran. Mereka adalah patriot sejati."
Sejumlah laporan intelijen mengungkapkan bahwa sekitar 14.000 tentara Korea Utara dikirim ke Ukraina untuk mendukung invasi Rusia, namun setidaknya 6.000 di antaranya tewas selama perjuangan. Banyak dari mereka yang memilih bunuh diri sebagai jalan terakhir daripada ditangkap pasukan Ukraina, menurut kesaksian pembelot dan intelijen Barat.
Pengerahan pasukan ini terjadi setelah Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani pakta pertahanan pada September 2024, yang memungkinkan kedua negara saling membantu jika salah satu di antaranya menghadapi ancaman. Meski awalnya membantah keterlibatan pasukan Korut, kedua pemimpin akhirnya mengakui peran militer dari Korea Utara dalam konflik tersebut. Selain mengirimkan pasukan, Korea Utara juga menerima bantuan ekonomi dan teknologi militer dari Rusia sebagai imbalan.

