Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Menlu Iran Ungkap Gagalnya Negosiasi Damai karena Tuntutan AS yang Tinggi

Menlu Iran Ungkap Gagalnya Negosiasi Damai karena Tuntutan AS yang Tinggi
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca0 kali dibaca

Jakarta, Fajar Papua — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, mengungkapkan alasan utama di balik kegagalan negosiasi perdamaian di Timur Tengah. Dalam pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg pada Senin (27/4), Aragchi menyatakan bahwa sikap tuntutan berlebihan dari Amerika Serikat menjadi kendala utama.

Dalam perjalanan diplomatik singkat setelah kunjungannya ke Oman dan Pakistan, Aragchi menegaskan bahwa pendekatan AS selama proses negosiasi sebelumnya tidak realistis dan justru memperpanjang ketegangan. "Meski ada kemajuan, tuntutan berlebihan dari AS menyebabkan putaran negosiasi gagal mencapai hasil yang diharapkan," ujarnya kepada AFP.

Di Moskow, Putin dan Aragchi menegaskan komitmen mereka terhadap hubungan strategis kedua negara. Putin turut memuji keberanian rakyat Iran yang tetap teguh dalam menghadapi tekanan dari AS dan Israel. Aragchi menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membahas perkembangan terbaru terkait konflik di Timur Tengah dan kemungkinan langkah-langkah solusi.

Sementara itu, Iran telah mengajukan proposal gencatan senjata baru kepada AS, yang disampaikan melalui perantara Pakistan. Proposal tersebut menitikberatkan penyelesaian krisis di Selat Hormuz dan mengatasi blokade ekonomi AS agar jalur perdagangan internasional tetap terbuka. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa jika Iran ingin melanjutkan dialog, mereka bisa menghubungi langsung melalui telepon. Menurut pejabat AS, Trump tidak puas dengan proposal tersebut karena tidak mencakup isu nuklir, yang menjadi salah satu poin utama dalam negosiasi.