Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Ketegangan Iran-AS Meningkat, Proposal Baru Iran Dibatalkan Trump

Ketegangan Iran-AS Meningkat, Proposal Baru Iran Dibatalkan Trump
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca0 kali dibaca

Presiden Amerika Serikat Joe Biden dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru dari Iran dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama dua bulan. Proposal tersebut, yang mengusulkan penundaan pembahasan program nuklir Iran hingga perang berakhir dan sengketa pelayaran di Teluk Persia terselesaikan, menuai penolakan keras dari Washington.

Menurut pejabat AS, usulan Iran tersebut diperkirakan tidak akan diterima, karena Presiden Donald Trump menegaskan bahwa isu nuklir harus dimulai dan diselesaikan sejak awal pembicaraan. Seorang pejabat yang mengetahui hasil pertemuan Trump dengan para penasihatnya pada 27 April menyatakan bahwa Trump tidak setuju dengan proposal Iran karena dianggap terlalu meremehkan prioritas isu nuklir.

Ketegangan ini semakin memperpanjang konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu, yang telah mengganggu pasokan energi global, memicu inflasi, dan menewaskan ribuan orang. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyatakan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan telah menetapkan garis merah dalam upaya menghentikan perang melawan Iran.

Sejarah perdamaian Iran dan dunia sempat diwarnai oleh JCPOA atau kesepakatan nuklir 2015, yang membatasi program nuklir Iran secara signifikan. Namun, perjanjian tersebut gagal setelah Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan di awal masa jabatannya, meninggalkan ketidakpastian dan memperburuk situasi.

Di tengah ketidakpastian ini, Iran tetap berupaya menghidupkan kembali proses damai. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang melakukan kunjungan ke Oman dan Rusia akhir pekan lalu, menyatakan bahwa Iran menawarkan langkah bertahap, termasuk penghentian perang dan jaminan keamanan dari AS, sebelum membahas isu nuklir secara menyeluruh. Meski begitu, harapan untuk segera menyelesaikan konflik semakin surut seiring penolakan keras dari Washington.