Amerika Serikat secara besar-besaran meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah melalui pengerahan tiga kapal induk utama, termasuk USS George H W Bush, USS Abraham Lincoln, dan USS Gerald R. Ford. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ketegangan yang terus meningkat dengan Iran, yang dianggap sebagai ancaman serius terhadap stabilitas regional.
Terbaru, USS George H W Bush, kapal induk kelas Nimitz, yang baru tiba pada Kamis (23/4), resmi masuk ke area tanggung jawab operasi militer AS di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengunggah foto kapal tersebut yang telah dipenuhi pesawat tempur di dek kapal, menandai peningkatan kekuatan militer di kawasan. Sementara itu, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln juga beroperasi di sekitar wilayah tersebut, memperlihatkan konsentrasi kekuatan laut terbesar dalam dua dekade terakhir.
Peningkatan kehadiran militer ini terjadi di tengah ketidakpastian akhir perang Iran dan penolakan Presiden Donald Trump untuk memberi tenggat waktu penyelesaian konflik. Menurut pejabat AS, saat ini ada 19 kapal perang lain di Timur Tengah dan tujuh kapal di Samudra Hindia, belum termasuk kapal induk dan kapal perusak pengawalnya. Jika pengerahan USS George H. W. Bush benar-benar baru dan bukan rotasi biasa, maka ini menjadi salah satu penempatan kekuatan laut terbesar AS sejak invasi Irak tahun 2003.
Di sisi lain, ketegangan semakin meningkat setelah Trump menegaskan akan membinasakan kapal yang menebar ranjau di Selat Hormuz. Ia menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal yang memasang ranjau, termasuk kapal kecil, dan mempercepat proses pembersihan ranjau yang sedang berlangsung. Langkah ini menunjukkan tekad AS untuk menjaga jalur pelayaran strategis tersebut dari ancaman Iran yang masih menutup Selat Hormuz.

