Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Mengapa AS Gagal Rebut Selat Hormuz Meski Klaim Menang Perang

Mengapa AS Gagal Rebut Selat Hormuz Meski Klaim Menang Perang
Foto / INTERNASIONAL
Redaksi2 menit baca0 kali dibaca

Amerika Serikat mengklaim telah meraih kemenangan dalam berbagai konflik melawan Iran, namun upaya untuk merebut dan membuka akses Selat Hormuz tetap gagal. Presiden Donald Trump, melalui media sosial Truth Social, menyuarakan kekecewaannya terhadap Iran yang tidak mengizinkan kapal minyak melewati selat strategis tersebut, padahal AS berharap bisa mengendalikan jalur penting ini untuk kepentingan energi dan keamanan kawasan.

Trump menyatakan bahwa Iran melakukan tindakan yang sangat tidak terhormat dalam mengelola lalu lintas di Selat Hormuz, sebuah jalur vital yang menghubungkan Timur Tengah dengan pasar global. Ia menegaskan bahwa itu bukan bagian dari kesepakatan yang mereka buat, serta menegaskan bahwa upaya militer langsung untuk merebut selat tersebut bukanlah langkah yang mudah atau tanpa risiko. Ahli militer laut AS, Jennifer Parker, menyebutkan bahwa merebut Selat Hormuz akan melibatkan risiko besar, termasuk kemungkinan konflik bersenjata yang meluas.

Upaya membuka blokade selat ini tidak sekadar mengerahkan kapal perang, melainkan juga membutuhkan pengendalian wilayah daratan di sekitar selat, terutama garis pantai Iran yang menjadi lokasi peluncuran serangan. Langkah ini memaksa AS untuk mempertimbangkan pengerahan pasukan darat atau operasi militer terbatas yang berisiko memperluas konflik. Selain itu, AS harus menyediakan pengawalan ketat bagi kapal tanker yang melintas, mengingat ancaman dari wilayah pantai Iran yang cukup signifikan.

Di tengah ketegangan ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi terkait gencatan senjata dengan Lebanon, meskipun dengan sejumlah syarat tertentu. Secara keseluruhan, meskipun Amerika Serikat mengklaim kemenangan di medan perang, kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi tantangan besar yang penuh risiko dan tidak mudah direbut secara militer. Situasi ini menegaskan bahwa konflik di kawasan ini masih sangat kompleks dan memerlukan pendekatan diplomatik yang hati-hati.