Pakistan semakin menunjukkan langkah aktif dalam menengahi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dengan menawarkan diri sebagai mediator, Pakistan didukung oleh Turki dan Mesir, berupaya mendorong terciptanya gencatan senjata di wilayah yang sedang panas.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dikabarkan telah melakukan kontak langsung dengan Presiden Iran, sementara pejabat militer Pakistan juga menjalin komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengonfirmasi bahwa Islamabad tengah menyampaikan proposal gencatan senjata 15 poin dari AS kepada Iran dan bersedia menjadi tuan rumah perundingan dalam waktu dekat.
Keberanian Pakistan sebagai mediator bukan tanpa dasar sejarah. Negara ini pernah berperan penting dalam membuka jalur diplomatik antara AS dan China pada 1971 serta memfasilitasi Perjanjian Geneva di 1980-an yang membantu penarikan pasukan Soviet dari Afghanistan. Kini, posisi strategis Pakistan di tengah konflik global membuatnya menjadi pihak yang diperhitungkan di panggung diplomasi internasional.
Meski demikian, peluang Pakistan untuk berhasil menjadi mediator utama di tengah ketegangan yang mencuat tetap terbuka. Iran yang tegas menolak melakukan gencatan senjata, dan kemungkinan melibatkan negara seperti China sebagai pendukung diplomasi Iran menambah kompleksitas proses tersebut. Menurut pengamat, mediasi yang efektif membutuhkan lebih dari sekadar niat baik, tetapi juga dukungan politik dan diplomatik dari berbagai pihak terkait.

