Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas menyusul pernyataan tegas Iran terkait ancaman serangan dari Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran akan melakukan pembalasan jika infrastruktur kritis mereka diserang, sebagai respons terhadap ancaman Presiden AS, Donald Trump.
Baghaei menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) siap menargetkan aset milik Amerika Serikat atau yang mendukung operasi militer Washington terhadap Iran. Ia menilai ancaman Trump yang akan menyerang sektor energi dan infrastruktur Iran sebagai tindakan kriminal dan berbahaya, bahkan mengingatkan bahwa hal tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pernyataan Baghaei muncul setelah Trump mengancam akan melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika negara tersebut menolak membuka Selat Hormuz. Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa hari Selasa akan menjadi 'Hari Pembangkit Listrik dan Jembatan' di Iran, dengan ancaman akan menjadikan Iran 'neraka' dan menutup Selat Hormuz.
Konflik ini sudah berlangsung selama lebih dari lima pekan, sejak operasi militer AS dan sekutunya Israel yang menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran sendiri telah melakukan serangan balasan ke Israel dan aset AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz dalam upaya menekan tekanan dari Amerika dan sekutunya. Ketegangan ini memicu kekhawatiran global akan krisis energi yang meluas di berbagai wilayah.

