Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa serangan militer yang dilancarkan ke Iran pada 28 Februari lalu sebenarnya bertujuan untuk mendukung sekutu-sekutu AS di Timur Tengah. Dalam pernyataannya pada Rabu (1/4), Trump menegaskan bahwa AS tidak membutuhkan sumber daya alam dari kawasan tersebut, melainkan berjuang demi melindungi sekutu dekatnya seperti Israel, Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, dan Bahrain.
Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat tetap 'sendirian' di Timur Tengah, namun kehadiran militer AS di sana adalah bentuk bantuan terhadap sekutu-sekutu yang berada di garis depan ketegangan tersebut. Dia juga memuji keberhasilan militer AS yang mengklaim telah melumpuhkan kekuatan Iran secara cepat dalam perang yang berlangsung selama 32 hari, dan menyatakan bahwa tujuan utama dari operasi tersebut hampir tercapai.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa perubahan rezim bukanlah sasaran utama AS, meskipun ia mengklaim bahwa rezim Iran telah mengalami perubahan akibat serangan tersebut, termasuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Ali Larijani, oleh Israel. Trump juga menyatakan bahwa angkatan laut dan darat Iran saat ini dalam kondisi hancur dan porak-poranda.
Di tengah klaim kemenangan ini, Trump memperingatkan bahwa serangan akan dilanjutkan dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan dan bahwa Iran akan kembali ke masa keterbelakangan. Ia menegaskan bahwa AS berkomitmen melumpuhkan kemampuan Iran untuk mengancam keamanan regional dan global, meski Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan Iran tak pernah memiliki kemampuan menyerang wilayah AS. Trump pun menyebutkan bahwa setelah konflik berakhir, Selat Hormuz akan kembali terbuka karena Iran membutuhkan ekspor minyak untuk membangun kembali ekonominya.

