RUANG kelas bukan satu-satunya tempat siswa bertumbuh. Bagi penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang menempuh pendidikan di luar daerah, kehidupan asrama menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
Hal itu menjadi perhatian dalam monitoring dan evaluasi (monev) Divisi Monev Pendidikan YPMAK di SMAN 3 Buper Waena, Kota Jayapura, Papua. Tim yang dipimpin Kepala Divisi Monev Pendidikan YPMAK Erlina Etti Timang, bersama Staf Monev Pendidikan Monica Ana Ero Kemong, bertemu pihak sekolah, pendamping, serta siswa penerima beasiswa.
“Hasil pemantauan ini menjadi bahan evaluasi tindak lanjut bagi kami untuk melihat sejauh mana perkembangan akademik dan karakter siswa selama di lembaga pendidikan,” kata Erlina.
Hasil pemantauan tidak hanya melihat capaian nilai, tetapi juga berbagai dinamika yang dihadapi siswa selama menjalani pendidikan. Setiap tahun, pemantauan dilakukan di berbagai kota studi untuk menyerap aspirasi sekaligus menemukan kendala yang membutuhkan perhatian.
Di SMAN 3 Buper Waena, catatan akademik para siswa menunjukkan hasil menggembirakan. Kepala sekolah Joko Yohanis menyebut nilai rata-rata peserta beasiswa berada di atas 83, melampaui standar ketuntasan minimal sekolah sebesar 75.
Prestasi lebih tinggi juga ditorehkan Stanlly Wogan. Siswa penerima beasiswa YPMAK tersebut berhasil menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Papua pada bidang fisika.
“Prestasi anak-anak cukup baik. Stanlly berhasil menembus tingkat provinsi setelah bersaing dengan ribuan peserta, meski ketekunan dan ketenangan mengerjakan soal masih perlu diasah,” beber Joko.
Sekolah terus memperkuat pembinaan melalui pemantauan nilai tengah semester, fasilitas kelas internasional, hingga bimbingan psikologis. Pembinaan kedisiplinan dan pencegahan bahaya narkoba juga dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Di sisi lain, perjalanan siswa tidak selalu mudah. Novela Chrisanta Pokniangge, siswa kelas XI penerima beasiswa YPMAK, mengingat masa awal bersekolah di Jayapura sebagai fase penuh tantangan. Rasa rindu rumah sempat membuatnya ingin kembali bersekolah di Timika.
Namun, dukungan teman dan kehidupan bersama di asrama perlahan membantu proses adaptasi. Program belajar malam menjadi ruang bersama untuk memahami pelajaran sekaligus saling menguatkan.
“Dukungan sesama teman dan program belajar malam di asrama sangat membantu kami memahami materi pelajaran sekolah. Kami sangat berterima kasih kepada YPMAK atas kesempatan besar ini,” ucap Novela.
Dari nilai rapor hingga pencapaian di ajang sains, perjalanan siswa penerima beasiswa YPMAK memperlihatkan satu hal penting: prestasi akademik tumbuh bersama proses pembentukan karakter. Monev hadir untuk memastikan keduanya terus berjalan beriringan.








