Timika, fajarpapua.com – Selain pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih dan pembentukan Koperasi Merah Putih, Kodam XVII/Cenderawasih juga akan menjalankan program cetak sawah sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden RI.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengatakan, program cetak sawah di wilayah Provinsi Papua tahap awal akan dipusatkan di Kabupaten Keerom dengan luas mencapai 30 ribu hektare.
“Untuk Provinsi Papua, program cetak sawah sementara akan dilakukan di Kabupaten Keerom. Itu rencananya 30 ribu hektare,” ujarnya usai peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Timika, Sabtu (20/6).
Ia menjelaskan, program tersebut nantinya akan diperluas ke seluruh wilayah Papua. Untuk itu, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah di enam provinsi di Tanah Papua.
“Minggu lalu di Jakarta kami melakukan pertemuan bersama gubernur, bupati dan wali kota se-Tanah Papua untuk membahas program cetak sawah,” tuturnya.
Menurut Pangdam, program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat karena lahan yang dibuka tetap menjadi hak ulayat masyarakat setempat. “Lahan itu tetap milik masyarakat adat. Kami hanya membantu membuka lahan sehingga tidak ada tanah yang diambil pemerintah. Seluruh proses pengerjaannya dilakukan masyarakat sendiri. Setelah itu akan ada pendampingan dari Kementerian Pertanian dan TNI, termasuk dukungan alat pertanian dan benih. Hasil produksinya juga sepenuhnya untuk masyarakat,” bebernya.
Ia menambahkan, sistem pertanian yang diterapkan akan menggunakan mekanisasi modern dengan dukungan berbagai peralatan pertanian berteknologi.
“Nantinya menggunakan traktor, alat tanam dan peralatan modern lainnya. Jadi tidak lagi mengandalkan cara-cara tradisional seperti mencangkul atau memanen menggunakan sabit,” katanya.
Program cetak sawah tersebut diharapkan mampu mendukung kemandirian pangan di Papua sekaligus menekan harga kebutuhan pokok karena tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kalau sumber pangannya berasal dari tanah Papua sendiri, tentu harganya bisa lebih murah karena tidak memerlukan biaya transportasi dari luar,” tukasnya.
Selain itu, Pangdam menuturkan program tersebut akan melibatkan masyarakat secara luas, termasuk pemuda Papua yang tergabung dalam brigade pangan. “Semua dilakukan masyarakat sendiri, pemerintah hanya mendampingi dan menyediakan sarana. Yang dikembangkan juga tidak hanya padi, tetapi komoditas lain seperti jagung, ubi, sagu, kelapa, kakao hingga pala,” pungkasnya. (ron)








