Timika, fajarpapua.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dengan melakukan restocking atau pelepasan 10.000 bibit ikan baramundi dan 1.000 kepiting bakau di wilayah pesisir Mimika, Papua Tengah.
Program ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir selatan Mimika, khususnya nelayan dan masyarakat adat Kamoro.
Vice President Environmental PTFI, Gesang Setyadi, mengatakan ikan baramundi dan kepiting bakau merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat pesisir.
“Program restocking ini merupakan upaya menjaga keberlanjutan populasi ikan baramundi dan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta menjadi sumber mata pencaharian penting bagi nelayan dan masyarakat Kamoro di Mimika,” ujar Gesang saat kegiatan pelepasan bibit di Muara Tipuka, Distrik Mimika Timur, Kamis (28/5).
Menurut Gesang, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut hasil penelitian dan kerja sama PTFI dengan Universitas Papua (UNIPA) melalui survei perikanan yang menunjukkan meningkatnya kebutuhan ikan dan kepiting di wilayah pesisir Mimika.
Program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, Clemens Ohoilulin, mengapresiasi langkah PTFI yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
“Kegiatan restocking ini memberi dampak langsung bagi masyarakat. Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan PTFI, termasuk rencana pengembangan program restocking untuk komoditas lain seperti ikan nila dan ikan mas,” kata Clemens.
Gesang menambahkan, selain menjaga keseimbangan populasi ikan dan kepiting, program ini juga merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban PTFI terhadap persetujuan teknis yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada 2023 terkait peningkatan jasa ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
Dalam pelaksanaannya, PTFI melibatkan sekitar 27 kontraktor lokal dari lima kampung pesisir, yakni Nayaro, Koprapoka, Nawaripi, Ayuka, dan Tipuka, untuk membangun struktur muara sebagai area pengendapan sedimen yang selanjutnya ditanami mangrove.
Hingga saat ini, PTFI tercatat telah melakukan penanaman mangrove di Muara Ajkwa dengan luas lebih dari 2.100 hektare.
“Sebelumnya pada 2025 lalu, PTFI juga telah melakukan pelepasan 10 ribu anakan ikan baramundi dan 500 indukan kepiting bakau di Muara Ajkwa. Program tersebut direncanakan berlangsung secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir Papua Tengah,” tutup Gesang. (ron)

