Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Kisah Kurniati Ali - Penderita Kanker Payudara asal Irigasi Timika, Pasrah Menunggu Ajal Hanya Karena Tak Mampu Beli Tiket Pesawat

image
imageFoto / MIMIKA
Redaksi3 menit baca7 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Mendung menggantung di langit Irigasi sore itu. Gerimis turun perlahan, membasahi jalan-jalan kecil yang sunyi. Di sebuah rumah sederhana berdinding tripleks di ujung Jalan Hasanuddin, seorang perempuan paruh baya hanya bisa menahan tangis sambil memegangi tubuhnya yang semakin lemah.

Namanya Kurniati Ali, ibu rumah tangga asal Makassar yang sudah puluhan tahun jadi warga Mimika.

Sudah hampir sepekan ini matanya sulit terpejam. Rasa sakit akibat kanker payudara yang dideritanya menjalar hingga ke kedua tangan.

Setiap malam baginya terasa panjang. Perih yang ia rasakan seperti tak pernah benar-benar pergi. Tak ada jeritan keras. Hanya isak tertahan dan tatapan kosong seorang ibu yang mulai kehabisan tenaga melawan penyakitnya.

Kurniati bukan orang berada. Ia hanya hidup sederhana bersama suaminya yang bekerja serabutan dan sesekali berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan yang tidak menentu membuat keluarganya hanya mampu bertahan hidup pas-pasan.

Dulu, pada Oktober 2025, dokter di RSUD Mimika telah menyarankan agar Kurniati segera dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Makassar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun harapan itu kandas di tengah jalan.

Mereka tak punya biaya. Harga tiket pesawat yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, berubah menjadi tembok besar yang tak mampu mereka lewati. Pengobatan pun terhenti. Waktu berjalan, sementara penyakit di tubuh Kurniati terus berkembang semakin ganas. Kini, tahun 2026, kondisinya semakin memburuk.

Arie Agung Perdana, Komandan Relawan Mimika Respon Cepat, mengaku tak kuasa melihat kondisi Kurniati. Sore itu, dengan sepeda motor, ia menerobos rintik hujan menuju rumah kecil tempat Kurniati tinggal.

Saat tiba, ia hanya bisa duduk terdiam beberapa saat. Di hadapannya ada seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan hidup, namun terkalahkan oleh keadaan.

“Kadang kami sebagai relawan hanya bisa bantu seadanya. Tapi melihat ibu ini, hati benar-benar teriris,” tuturnya lirih.

Relawan Mimika Respon Cepat selama ini berusaha membantu pasien-pasien yang membutuhkan rujukan keluar daerah. Namun dalam beberapa pekan terakhir, banyaknya warga yang harus ditolong membuat kemampuan mereka terbatas. Para personel bahkan harus patungan untuk biaya rawat, ambulans, hingga pengiriman pasien keluar Timika. Kini mereka kembali mengetuk pintu hati banyak orang.

Kurniati membutuhkan uluran tangan untuk biaya pengobatan, tiket rujukan ke Makassar, tempat tinggal sementara, hingga kebutuhan hidup selama menjalani perawatan di Rumah Sakit Wahidin.

Di rumah kecil itu, kini Kurniati masih berusaha menahan perih meski rasa sakit terus menggerogoti tubuhnya.

Sesekali ia menatap keluar rumah, memandang hujan yang turun perlahan, seolah menunggu keajaiban datang menghampiri. Sebab bagi orang kecil seperti dirinya, sembuh bukan lagi sekadar soal obat. Tetapi tentang apakah masih ada tangan-tangan baik yang mau menolongnya bertahan hidup.

Ada yang terketuk hatinya untuk membantu Kurniati melunasi tiket pesawat ? Hubungi Arie Agung Perdana Nomor HP 0811496759.(red)