Timika, fajarpapua.com — Penurunan produksi emas dan tembaga yang dialami PT Freeport Indonesia (PTFI) pada kuartal I 2026 tidak sepenuhnya berdampak negatif terhadap kinerja induk usahanya, Freeport-McMoRan (FCX).
Di tengah tekanan operasional akibat insiden longsor tambang, perusahaan justru mencatat kinerja keuangan yang tetap positif.
Penurunan produksi terjadi sebagai dampak insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025, yang merusak infrastruktur penting dan menghambat aktivitas produksi.
Pada kuartal I 2026, produksi emas PTFI tercatat hanya 92 ribu ons, turun 67,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 284 ribu ons.
Sementara itu, produksi tembaga juga merosot menjadi 95 juta pon dari sebelumnya 296 juta pon atau turun 67,91 persen.
Penurunan ini turut memengaruhi volume penjualan. PTFI hanya mencatat penjualan 82 juta pon tembaga dan 116 ribu ons emas, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal I 2025 yang mencapai 290 juta pon tembaga dan 125 ribu ons emas.
“Penurunan ini mencerminkan tingkat operasi yang lebih rendah setelah insiden aliran lumpur pada September 2025,” tulis FCX dalam laporan resminya seperti dikutip fajarpapua.com dari katadata.co.id, Sabtu (25/4).
Kinerja Tetap Positif
Meski produksi turun tajam, Freeport-McMoRan tetap mencatat kinerja keuangan yang kuat.
Mengutip laporan Kitco News, Freeport membukukan laba bersih sebesar US$881 juta atau US$0,61 per saham pada kuartal I 2026.
Pendapatan perusahaan juga meningkat menjadi US$6,23 miliar dari sebelumnya US$5,73 miliar, sementara arus kas operasional naik menjadi US$1,5 miliar.
Kinerja positif ini ditopang oleh tingginya harga emas global selama periode tersebut.
Harga emas rata-rata tercatat mencapai US$4.889 per ons, melonjak signifikan dibandingkan US$3.072 per ons pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini membantu menopang pendapatan perusahaan meskipun volume produksi menurun.
Presiden dan CEO Freeport, Kathleen Quirk, menegaskan bahwa kekuatan portofolio perusahaan menjadi kunci menjaga kinerja tetap positif.
“Hasil keuangan kami mencerminkan pertumbuhan pendapatan, arus kas, dan laba dibandingkan tahun lalu, meskipun kapasitas operasi di Indonesia berkurang,” ujarnya.
Pemulihan Masih Berlangsung
Freeport menyebutkan bahwa proses pemulihan produksi di tambang Grasberg masih berlangsung, termasuk penyesuaian dan modifikasi infrastruktur pemuatan bijih.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan bertahap hingga operasi kembali normal.
Selain itu, PTFI juga mencatat tambahan pemasukan dari klaim asuransi terkait insiden longsor sebesar US$0,7 miliar, yang semakin memperkuat posisi keuangan perusahaan di tengah tekanan produksi.
Ke depan, Freeport tetap optimistis terhadap prospek bisnisnya, seiring upaya pemulihan operasional dan dukungan harga komoditas yang masih tinggi di pasar global. (mas)

