Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Yansen : Abang KT Selalu Meminta Kami Rendah Hati, Menolong Siapa Saja, Bekerja dan Terus Berdoa

Yansen Tinal
Yansen TinalFoto / MIMIKA
Redaksi4 menit baca0 kali dibaca

Penulis : Hadmarus Waka

(Pemred fajarpapua.com)

MENDIANG Wakil Gubernur Provinsi Papua, Klemen Tinal semasa hidupnya ternyata tidak pernah memanjakan adik-adiknya secara berlebihan.

Meski memiliki jabatan sebagai pejabat negara, almarhum KT demikian ia disapa selalu menekankan agar adik-adiknya tidak menjadi beban orang tua dan keluarga.

"Abang KT selalu meminta kami harus berusaha sendiri untuk sukses baik dalam belajar maupun dalam pekerjaan," ujar Yansen M Tinal, BSc kepada fajarpapua.com seusai prosesi pemakaman Almarhum Klemen Tinal di Kompleks Pemakaman Keluarga Tinal SP3, Senin (24/5).

Yansen mengungkapkan dalam setiap kesempatan, KT selalu menegaskan pentingnya berusaha sendiri sesuai dengan kemampuan.

"Beliau selalu berpesan jangan berharap orang lain akan membantu, tetapi harus berusaha sendiri dulu entah itu berhasil atau gagal," jelasnya

Namun sebagai kakak, KT menurut Yansen adalah sosok yang selalu mengayomi adik-adiknya maupun seluruh keluarganya.

"Contohnya, beliau akan selalu mengatakan agar kami berusaha mandiri. Tetapi disatu sisi sebagai kakak, beliau sering mengatakan jika mengalami kesulitan kami diminta datang kepadanya," ujarnya.

Namun KT lanjut Yansen, sangat tidak respek jika ada keluarga terutama adik-adiknya menjadi beban keluarga dan orang lain. "Kami sejak kecil sudah diajar mandiri dan tidak berharap penuh bapa dan mama," kata Yansen.

Yansen memberi satu contoh ketika masih kecil dirinya selalu didorong Abang KT untuk belajar terutama matematika

"Abang KT tahu saya lemah dalam hitung hitungan dan Abang KT memang pintar pelajaran matematika. Karena diajar berulangkali, saya masih tidak tahu membuat alamarhum marah sampai melempar saya dengan pensil," urainya dengan raut sedih.

Kepintaran almarhum dalam berhitung ini lanjut Yansen diimplementasikan dalam hidup dan karir yang dilakoninya dengan penuh perhitungan dan ketelitian.

"Kalau soal hitung-hitungan Abang KT sangat teliti, bahkan beliau menginginkan kami adik-adiknya harus teliti dan selalu waspada, mawas diri dalam pekerjaan, tetap rendah hati dengan sesama," ujarnya.

Yansen juga menggambarkan sosok KT adalah seorang yang memiliki kerendahan hati dan menghormati siapa saja yang dikenalnya.

"Menurut Abang KT, kami diminta selalu bersikap rendah hati dan membantu sesama tanpa melihat status sosial, tanpa melihat dia dari mana asalnya, suku dan agama apa. Menurut beliau semua manusia sama statusnya, dan jabatan hanya titipan," jelasnya.

Bahkan rendah hati itu lanjut Yansen, adalah kunci utama yang diajarkan Abang KT kepada adik-adiknya. "Almarhum sangat marah jika adik- adiknya mulai bicara soal perbedaaan. Beliau tidak suka dengan rasis sebab manusia ciptaan Tuhan yang sama tanpa ada perbedaan dalam sekat- dekat sosial," tegasnya.

Soal pesan terakhir sebelum KT meninggal, Yansen mengakui tidak ada pesan yang disampaikan secara khusus baik kepada keluarga maupun adik-adiknya.

Namun dalam sehari- hari lanjut Yansen, apa yang dilakukan oleh Abang KT selalu menekankan tentang tetap rendah hati, membantu orang lain lebih- lebih yang susah, jangan sombong, waspada dalam pekerjaan dan terus berdoa karena dengan doa ada kekuatan Tuhan yang terus bekerja dalam diri kita.

"Pesan khusus tidak ada, tapi beliau selalu ingatkan tetap berdoa, jangan sombong dan waspada dalam bekerja serta jangan bermasalah dengan orang lain atau teman kerja. Kami yang bekerja sebagai wakil rakyat dipesan lebih banyak mendengar keluhan rakyat, karena itu jauh lebih penting dari pada banyak bicara.biacara sedikit tapi banyak kerjanya," terang dia.

Sedangkan Ketua Alumni Bandung, Tansil Azhari mengungkapkan selama menempuh pendidikan di Bandung, KT memiliki panggilan Stef.

Diakui Tanzil yang saat ini duduk sebagai Anggota DPRD Mimika, Stef atau KT memang memiliki empati dan simpati yang tinggi

"Stef sangat familiar dengan semua orang, sehingga di tahun 1980 an beliau dikenal luas di Bandung. Meski sibuk dengan kelompok anak muda dia rajin kuliah. Saat Bapak Abdiel Tinal terlambat kirim uang Stef dan teman- temannya cari uang sendiri. Dia ulet walau tiap bulan kiriman terlambat tapi Stef tetap ada ada uang. Kelebihan beliau fasih Bahasa Sunda sehingga dia diterima di kelompok masyarakat Sunda," jelasnya

Bahkan politisi Partai Gerindra ini menjamin, yang namanya Alumni Bandung Tahun 1980 an pasti kenal Klemen alias Stef.

Tansil mengungkapkan, meski saat di Bandung, Klemen kuliah di Universitas Parahyangan Bandung namun teman-temannya berasal dari banyak perguruan tinggi lainnya.

"Teman-teman di Bandung sangat kaget dengan meninggalnya Stef, mereka turut berduka cita dan banyak yang mengirimkan ucapan duka ubtuk almarhum," tutupnya. ***