Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Catatan Kelam, 2 Goresan Luka Warnai Program Pendidikan YPMAK, Ingat...Ini Juga Luka Mimika

IMG 20210312 WA0033
IMG 20210312 WA0033Foto / MIMIKA
fajar Papua4 menit baca0 kali dibaca

PROGRAM pendidikan Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) pada pekan ini secara bertubi-tubi mendapat goresan luka yang dalam.

Bagaimana tidak, luka demi luka mereka terima. Tidak hanya membuat harga diri yayasan terluka, tetapi juga meninggalkan duka yang mendalam bagi yayasan dan juga keluarga anak.

Luka pertama yang diterima YPMAK adalah informasi meninggalnya tiga mahasiswa penerima beasiswa yang mengenyam pendidikan di Salatiga, Jawa Tengah.

Ironisnya, ketiganya tewas usai menenggak minuman keras, Kamis (11/3) bersama tujuh rekan lainnya.

Ketiga korban meninggal, Rudolf Kelanangame, Marhono Wakerkwa dan Herman Kogoya, seluruhnya asal Timika dan merupakan peserta program biasiswa YPMAK kerjasama dengan Yayasan Binterbusih Salatiga.

Belum usai rasa sedih, duka dan amarah, muka YPMAK kembali ditampar dan dilukai dengan sangat dalam.

Bahkan luka kali ini tidak hanya membuat yayasan ini terduduk lesu, tetapi juga membuat nama dan harga diri program pendidikan berada pada titik terendah.

Ya… Akibat ulah tidak terpuji bahkan bisa dibilang biadab, 25 siswa sekolah dasar yang rata-rata berusia 5 hingga 7 tahun yang selama ini dibina YPMAK melalui program pendidikan Sekola Asrama Taruna Papua mendapat pelecehan seksual dan tindak kekerasan.

Sekali lagi. Ironisnya, terduga pelaku pelecehan seksual terhadap calon-calon generasi emas dilakukan oleh DFL yang notabene adalah orang yang dipercaya oleh YPMAK melalui mitranya untuk menjaga, mengawasi dan mungkin mengajari para korban.

Diakui atau tidak, kedua peristiwa tersebut diatas jelas menimbulkan sebuah pertanyaan dari khalayak terutama terkait lemahnya prosedur pengawasan dan prosedur asuh dalam program pendidikan di yayasan ini sehingga kedua peristiwa tersebut terjadi.

Namun demikian, kita semua tahu, program pendidikan yang menjadi salah satu dari tiga program utama yayasan ini sejak 2006 atau sejak masih bernama LPMAK melalui Biro Pendidikan mulai mengembangkan program beasiswa bagi anak-anak Suku Kamoro dan Amungme serta lima suku kekerabatan di Timika.

Program ini telah berjalan baik karena dalam mengelola program pendidikan, YPMAK tidak bekerja sendirian tapi bekerjasama dan bermitra dengan sedikitnya 20 institusi pendidikan terkemuka di Papua, Sulawesi Utara serta Jawa.

Sebenarnya, melalui kemitraan itu siswa maupun mahasiswa penerima program beasiswa sudah mendapat pembinaan karakter dan pengembangan kemampuan akademik.

Hal ini secara berkala juga dimonitoring serta dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program dan pencapaian penerima beasiswa.

Selain itu YPMAK juga bermitra dengan Pemerintah Kabupaten Mimika sebagai mitra utama, yayasan-yayasan penyelenggara pendidikan di Mimika serta melibatkan lembaga adat maupun lembaga agama untuk meningkatkan kualitas pengelolaan program beasiswa.

Diakui dua luka yang menoreh YPMAK pada pekan ini bukan hanya menjadi luka yayasan, tetapi juga menjadi luka bagi dunia pendidikan di Kabupaten Mimika.

Kita semua harus sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh Direktur YPMAK, Vebian Magal, kita tidak perlu menyalahkan dan tuduh menuduh.

Ya… Apapun yang terjadi tidak perlu menyalahkan yayasan, pengurus yayasan ataupun mitra pengelolanya.

Saat ini, semua stokeholder yayasan dan juga Pemda Mimika melalui sejumlah OPD terkait pendidikan, kesehatan dan perlindungan anak harus fokus pada pemulihan terhadap 25 siswa yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan.

Sumber daya yang berada di yayasan dan pemerintah harus segera bertindak dengan cara memberi dampingan dan konseling sehingga peristiwa tersebut tidak menimbulkan trauma bagi mereka dimasa datang.

Semua stokeholder yayasan khususnya penyelenggara progran pengiriman siswa dan mahasiswa ke sejumlah kota studi baik yang ada di Papua maupun luar Papua juga harus berani berbenah terutama terkait pengawasan kepada para penerima program.

Ingat! Kematian siswa dan mahasiswa penerima program beasiswa YPMAK di kota studi ini bukanlah yang pertama, tetapi telah terjadi beberapa kali baik karena sakit, kecelakaan dan minuman keras.

YPMAK sebagai yayasan yang ditunjuk mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia, dengan melihat kedua kejadian pada pekan ini serta beberapa peristiwa sebelumnya harus juga berani mengevaluasi program pendidikan dan juga harus berani mengevaluasi serta meminta jaminan kepada seluruh mitra yang mengelola program pendidikan agar peristiwa tersebut tidak berulang.

Bagaimanapun, kedua peristiwa yang terjadi pada pekan ini yang menimpa YPMAK tetap menjadi "Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga".

Ya sedikit banyaknya tindak pelecehan dan kekerasan serta tewasnya tiga mahasiswa tersebut merusak prestasi luar biasa YPMAK dalam upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatannya.

Keep Strong YPMAK… Tetap kuat dan tetap menjadi setitik terang di Tanah Amungsa Bumi Kamoro, karena masih banyak generasi emas tanah ini membutuhkan kehadiranmu. Amolongo Nimao Witimi. (Mustofa)