Timika, fajarpapua.com - Sedikitnya 23 anak Kampung Mawokau Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika dalam tahun 2020 terpapar stunting. Angka itu diketahui setelah petugas Puskesmas Wania bersama aparat kampung turun melakukan pendataan di 12 RT.
Namun, sampai saat ini belum ada tindakan atau penanganan kesehatan dari Pemerintah Kabupaten Mimika.
“Memang yang ditemukan ada 23 orang, tapi 8 orang keluar dari Kampung Mawokau Jaya. Mereka tidak tinggal lagi di sini. Tidak tahu mereka kemana. Yang ada saat ini Mawokau Jaya hanya 15 orang saja. Sampai hari ini juga belum ada penanganan dari petugas Puskesmas maupun dari Dinas Kesehatan," ungkap Kepala Kampung Mawokau Jaya, Edison Rafra kepada Fajar Papua, Senin (30/11).
Pemerintahan Kampung, kata dia, telah menganggarkan dana melalui dana desa (DD) sebesar Rp 50 juta. Dana tersebut untuk pendataan, serta kegiatan lain yang berhubung dengan pengentasan stunting.
Edison mengatakan, jika Kampung Mawokau Jaya terpilih jadi lokus perhatian soal stunting oleh Provinsi Papua, maka program dari Pemkab harus jelas.
Sejak isu stunting dipublis oleh Dinkes dan Pemkab Mimika, tidak ada tindakan program satupun yang turun kampung.
"Jangan bicara program, petugas saja mau tutup tahun ini tidak ada turun satu pun," katanya.
Terkesan, lanjut Edison, Pemkab, Dinkes dan OPD teknis lainnya mengharapkan puskesmas yang turun rutin ke Mawokau Jaya, namun pada kenyataannya hal ini tidak dilakukan.
"Jangan salah jika opini aparat kampung dan masyarakat ada pembiaran yang dilakukan oleh dinas teknis. Pemerintah kampung sudah melakukan tugas pendataan di lapangan bersama petugas lainnya, dan menemukan kasus dengan jumlah diatas 20, lalu penanganan selanjutnya harus OPD teknis karena berkaitan dengan kesehatan, gizi, dan pertumbuhan.
Kemudian soal warga sekitarnya, masalnya soal edukasi ke remaja putri, remaja putri yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah bagaimana pendekatannya. Lalu edukasi kepada pasangan-pasangan muda yang akan menikah, Ibu melahirkan, ibu hamil, orang tua yang memiliki anak balita harus diberikan edukasi mengenai kesehatan dan bagaimana agar anak lahir sehat dan bertumbuh normal dan tidak kerdil," ujarnya.
Sebagai aparat kampung, Edison mengatakan, sangat tidak mengerti dan memahami dengan pemerintah tingkat atas. Mereka umumkan Mawokau Jaya, Nawaripi dengan kasus stunting terbanyak tapi tidak ada program jelas dan terukur masuk ke wilayah itu.
"Menjadi tugas bersama, jika sekarang sesuai pendataan ada 23 yang terpapar, maka ini perlu dikawal bersama sehingga tahun dengan tidak muncul lebih banyak. Yang tahu dan mengerti soal stunting petugas medis, mestinya mereka harus turun rutin dan mengawasi dari dekat anak-anak yang terpapar ini," tukasnya.
Edison meminta Dinkes Mimika dapat menugaskan Puskesmas Wania untuk mengawasi secara rutin perkembangan anak-anak ini.
"Jika anak-anak ditemukan kerdil maka penanganan secara medisnya bagaimana. Ini sudah tutup tahun belum ada action program yang masuk ke Mawokau Jaya. Informasi yang beredar dalam masyarakat, Dinkes sudah mempunyai program untuk stunting, dan mana program itu, sekarang masyarakat lagi tunggu-tunggu, jangan hanya bunyi di media, lalu hilang tanpa menyentuh ke masyarakat," ungkapnya.(tim)

